Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Beli Sayur Saja Cukup Scan Barcode, Pasar Gawok Terapkan Sistem QRIS

04 Januari 2020, 07: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Wahyuni, 65, pedagang pakaian di Pasar Gawok menunjukkan kode barcode di kiosnya kemarin (3/1)

Wahyuni, 65, pedagang pakaian di Pasar Gawok menunjukkan kode barcode di kiosnya kemarin (3/1) (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Transaksi di pasar tradisional kian simpel. Pembeli tak perlu lagi menggunakan uang tunai. Cukup scan barcode di lapak pedagang, otomatis uang pembelian akan masuk ke rekening pedagang.

Pembayaran nontunai dengan sistem Quick Response Indonesia Standar (QRIS) bakal diterapkan di 15 pasar tradisional. Salah satunya Pasar Gawok. Pembeli bisa membayar barang kebutuhan yang dibeli menggunakan aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, atau mobile banking.

"Saat ini baru Pasar Gawok, Gatak, yang sudah menerapkan QRIS. Total ada 14 kios dan los yang sudah menerapkan sistem tersebut," terang Pimpinan Cabang Bank Jateng  Agus Hastono, Jumat (3/1). 

Pedagang sayur, pakaian, gerabah, sate, dan alat rumah tangga di Pasar Gawok sudah mengadopsi QRIS. Di kios dan los mereka telah terpasang QR code. Pembeli cukup scan kode barcode kemudian memasukkan nominal pembelian.

"Sistem ini diberlakukan secara bertahap. Akan kami kembangkan sampai seluruh pedagang pasar menerapkan QRIS," jelasnya. 

Ada beberapa kendala penggunaan QRIS. Antara lain penggunaan smartphone harus berbasis android, banyak pedagang yang sudah sepuh belum paham penerapan pembayaran nontunai, sehingga dibutuhkan banyak sosialisasi, sedangkan kelebihan sistem ini adalah lebih praktis, mengurangi risiko kecurangan, dan pembayaran sesuai nominal pembelian.

Salah seorang satu pedagang pakaian Pasar Gawok Wahyuni, 65, mengatakan, penerapan QRIS dilakukan sejak akhir Desember 2019. Di kiosnya juga telah terpasang QRIS barcode Namun, dia mengaku belum bisa menggunakannya.

"Rekening tabungan sudah punya. Hanya saja penggunaan e-banking masih belajar terus. Sebenarnya praktis, tetapi masih belum bisa menerapkan semuanya," ungkap dia.

Pedagang lainnya, Ega Sulistyoningrum, 25, menuturkan, telah memanfaatkan aplikasi e-banking dan mengakui lebih praktis dan mudah.

"Sebenarnya penerapannya mudah. Hanya harus pakai ponsel pintar berbasis Android karena pembayaran dengan barcode. Pedagang yang sudah sepuh kadang ponselnya belum Android. Jadi masih bingung pembayarannya," tutur dia.

Asisten II Sekda Widodo mengatakan, pemkab harus mengikuti perkembangan teknologi terkini. Termasuk pembayaran nontunai. Memang, penerapannya butuh waktu karena pedagang perlu penyesuaian. (rgl/wa)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia