Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Sragen

Waspadai Angin dan Banjir, BPBD Dirikan Posko 24 Jam

04 Januari 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Pemkab Sragen mulai memangkas dahan pohon di kawasan Kota Sragen. Hal ini untuk mencegah pohon tumbang saat ada angin ribut

Pemkab Sragen mulai memangkas dahan pohon di kawasan Kota Sragen. Hal ini untuk mencegah pohon tumbang saat ada angin ribut (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Pada awal tahun ini sejumlah kejadian bencana alam bermunculan. Seperti angin puting beliung dan banjir di sejumlah wilayah. Terkait kondisi tersebut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen meningkatkan kewaspadaan.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Sragen Sugeng Priyono menyampaikan, sejak dua hari lalu posko BPBD sudah disiagakan untuk relawan. Langkah ini untuk mengantisipasi jika ada kejadian mendadak. Terutama angin puting beliung yang tidak diduga kapan dan di mana datangnya. Sugeng menyampaikan 20 kecamatan di Sragen berpotensi diterjang angin puting beliung.

”Jadi 20 kecamatan di Sragen ini punya potensi terjadinya angin, karena memang tidak bisa dipetakan,” Sugeng kemarin (3/1).

Sugeng menilai yang perlu lebih diwaspadai adalah wilayah Sragen bagian barat. Meliputi Kecamatan Kalijambe, Gemolong, Miri dan Sumberlawang. Karena di wilayah itu tidak ada pemecah angin seperti keberadaan bangunan besar, dan gunung. Dengan demikian, angin yang berhembus lebih kencang.

Untuk itu didirikan posko di sejumlah lokasi. Termasuk di mako BPBD Sragen. Posko ini disiagakan selama 24 jam untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi bencana. Pihaknya memprediksi cuaca ekstrem diprediksi masih akan terjadi akhir pekan. Ditandai dengan hujan lebat disertai petir dan angin kencang atau puting beliung.

Sementara potensi banjir yang terjadi berdasarkan pengalaman 2019 lalu disebabkan karena luapan sungai. Banjir dipicu hujan deras dengan intensitas tinggi di wilayah hulu. Seperti di Karangpandan (Karanganyar) untuk hulu Sungai Mungkung, Garuda dan Natan. Serta hulu Sungai Bengawan Solo di wilayah Sukoharjo, dan Solo.

Jika melihat banjir 2017, sebanyak 39 desa di 14 kecamatan kategori rawan. Di antaranya Kecamatan Sragen, Sidoharjo, Tanon, Plupuh, Sukodono, Gesi, Ngrampal, Masaran, Tangen, Jenar, Sambungmacan, Kalijambe, Sumberlawang, dan Gondang. Kawasan tersebut dilintasi Sungai Bengawan Solo maupun anak Sungai Bengawan Solo. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia