Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Inovasi Lampion Bergambar Sablon

07 Januari 2020, 19: 19: 23 WIB | editor : Perdana

WARNA-WARNI: Proses pembuatan lampion di pusat kerajinan lampion di Kota Solo, kemarin. Perajin mulai berinovasi agar pesanan lampion melimpah. 

WARNA-WARNI: Proses pembuatan lampion di pusat kerajinan lampion di Kota Solo, kemarin. Perajin mulai berinovasi agar pesanan lampion melimpah.  (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Jelang perayaan Tahun Baru Imlek, permintaan lampion meningkat hingga 30 persen. Tingginya permintaan tak lepas dari inovasi yang dibuat para perajin. Salah satunya lampion gambar sablon.

Biasanya, pesanan datang dari pengusaha perhotelan, restoran, mal, dan tempat hiburan lainnya. Tak sekadar warna merah, permintaan kini beragam. Ada biru, ungu, kuning, dan sebagainya.

“Mulai akhir tahun kemarin, permintaan sudah mulai meningkat. Ada yang minta dibikin baru. Tapi ada juga yang minta lampion lama diperbarui. Permintaan masih dari sekitar Solo saja,” ucap perajin lampion asal Solo Florista Fitri Marimba kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (6/1).

Demi kepuasan pelanggan, Florista berinovasi dalam pembuatan lampion. Jika pelanggan memesan partai besar, lampion bisa dihias dengan gambar sablon. Gambar yang dipilih bebas. Sesuai keinginan konsumen.

“Minimal pemesanan 50-100 lampion kalau mau yang sablon gambar. Inovasi ini kami terapkan untuk menarik minat konsumen. Biar lebih banyak lagi,” imbuhnya.

Harga lampion bervariasi. Tergantung ukuran. Satu lampion kecil ukuran 20 sentimeter dipatok Rp 25 ribu. Ukuran sedang 30 sentimeter Rp 35 ribu. Sedangkan ukuran besar 1 meteran Rp 300 ribu. Mayoritas konsumen membeli lampion ukuran sedang.

“Bentuknya tidak cuma bulat. Ada yang minta lampion bentuk kotak, spiral, dan tabung. Proses pembuatannya membutuhkan waktu tiga hari untuk 20 lampion. Dikerjakan tiga perajin,” jelasnya.

Cara membuat lampion, lanjut Florista, diawali pembuatan rangka. Biar awet, dipilih bahan dari rotan. Sedangkan kain yang digunakan furing. Setelah rangka jadi, kain di-press, baru dilem. Diakhiri proses finishing.

“Kain furing dipakai karena tahan lama. Lebih awet dibandingkan pakai kertas. Selain itu juga gampang dibersihkan kalau kotor,” bebernya.

Sejauh ini, pesanan sudah mencapai seribu buah. Puncak permintaan diprediksi terjadi pada akhir bulan. Targetnya, 4 ribu lampion terjual.

“Pemasaran kami merambah media sosial. Prospeknya bagus. Banyak peningkatan. Permintaan makin tinggi. Konsumen paling banyak pesan 300 lampion,” ujarnya. (aya/fer)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia