Sabtu, 25 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Ego Sektoral Hambat Pariwisata,Butuh Sinergi Seluruh Pemerintah Daerah

07 Januari 2020, 20: 23: 51 WIB | editor : Perdana

Ego Sektoral Hambat Pariwisata,Butuh Sinergi Seluruh Pemerintah Daerah

SOLO – Sinergi pariwisata di Kota Solo dan sekitarnya masih sulit terwujud. Ego sektoral yang masih kental berimbas pada rendahnya kunjungan wisata. Padahal wacana sinergitas pariwisata telah didengungkan lebih dari satu dekade terakhir. 

Lemahnya sinergi antarpemerintah daerah ini diungkapkan Wakil Ketua ASITA Jawa Tengah Daryono. Dia menyebut sulit sekali memajukan pariwisata di eks Karesidenan Surakarta. 

“Perbedaan kue (pendapatan asli daerah, Red) yang didapat dari wisatawan yang berkunjung di masing-masing daerah jadi salah satu persoalan. Sehingga sering mengakibatkan kecemburuan," bebernya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Faktor lainnya, yakni gelontoran anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang berbeda-beda di masing-masing wilayah. Daryono menyebut ada daerah yang memprioritaskan sektor pariwisata. Di sisi lain, ada daerah yang kurang fokus mengembangkan pariwisata.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kota Surakarta Bambang Pramono menambahkan, masih tingginya ego sektoral menjadikan pariwisata kurang berkembang. Padahal sektor pariwisata sekarang jadi andalan pemerintah dalam mendulang pendapatan. Di luar sektor miyak bumi dan gas (migas).

“Memajukan pariwisata, pemerintah akan membentuk lembaga seperti TPID (tim penanggulangan inflasi daerah) yang khusus mengurusi sektor tersebut. Di lembaga itu, nantinya semua OPD (organisasi perangkat daerah) dan lembaga lainnya bisa masuk,” jelas pria yang juga Wakil Ketua TPID Kota Surakarta tersebut.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta Totok Tavirijanto mencatat, kunjungan wisatawan ke Kota Bengawan pada November 2019 mengalami penurunan dibanding periode yang sama di 2018. Data itu berdasarkan hasil rekap di Bandara Internasional Adi Soemarmo.

“Okupansi hotel justru meningkat. Khususnya hotel bintang tiga, empat, dan lima. Wisatawan di Kota Solo lebih banyak agenda MICE ketimbang leisure. Sehingga yang okupansinya tinggi ya hanya hotel bintang tiga, empat, dan lima. Karena mereka menyediakan ruang meeting,” paparnya. (aya/fer)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia