Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Tebing Taman Plintheng Semar Kritis, Ikon Batu Raksasa Rawan Longsor

08 Januari 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Sejumlah kepala organisasi perangkat daerah mengecek Taman Plintheng Semar yang rawan longsor

Sejumlah kepala organisasi perangkat daerah mengecek Taman Plintheng Semar yang rawan longsor (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Kondisi tebing Taman Plintheng Semar di Wonogiri kota semakin kritis. Setidaknya dua rumah di sekitar ikon Kota Sukses itu diterjang longsor, sedangkan satu rumah lainnya berpotensi longsor.

"Longsor terjadi Desember lalu. Menerjang rumah milik Sri Widianingsih, 56, dan Hendrikus, 50, sedangkan rumah milik Maryono, 59, berpotensi longsor," terang Ketua RT 02 RW 06 Kelurahan Giripurwo, Kecamatan Wonogiri Kota Ashari Mursito Wisnu.

Menurutnya, longsor terjadi karena belum ada saluran drainase di akses masuk permukiman sekitar Taman Plintheng Semar. Semula, warga secara swadaya membangun jalan masuk dengan memanfaatkan sisa material proyek pembangunan Kreteg Bang.

"Semula kan hanya jalan setapak berundak. Kemudian dibuat jalan. Tidak ada perencanaan. Kalau ada sisa proyek diminta untuk ngecor," imbuhnya.

Memasuki musim penghujan, lanjut Ashari, sudah dilakukan antisipasi longsor dengan memecah aliran air hujan ke arah selatan dan timur. “Aliran air hujan ke selatan itu lebih besar, ke timur kecil. Kalau semuanya diarahkan ke timur, (dampak longsor) lebih buruk,” ungkapnya.

Merespons longsornya kawasan Taman Plintheng Semar, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Wonogiri Ismiyanto, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Prihadi Ariyanto, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Stefanus Pranowo, dan Kabid Kebersihan dan Pertamanan Waris Kadarwanto cek lokasi. Mereka melakukan kajian untuk menentukan langkah selanjutnya.

"Secepatnya direncanakan (perbaikan). Kita coba prioritaskan untuk anggarannya," ujar Stefanus Pranowon (7/1).

Sementara itu, Waris Kadarwanto menambahkan, pembuatan jalan masuk kampung tidak dilakukan koordinasi dengan instansi teknis, sehingga konstruksi jalannya belum sempurna.

"Nanti kita buat penguatan talut bertulang. Dibuat saluran air juga. Ini langsung kita buat perencanaan agar segera bisa dilakukan pembangunan," ungkapnya.

Untuk diketahui, di taman tersebut terdapat batu berukuran raksasa yang bersandar di pohon asam. Karena ada pembangunan jalan masuk ke lingkungan warga, pohon asam dan batu terancam longsor. Jarak antara bibir tebing dan pohon asam hanya sekitar 3 meter hingga 4 meter. (kwl/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia