Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

Pelaku Usaha Purwosari Waswas Soal Masa Depan Bisnisnya

09 Januari 2020, 13: 02: 40 WIB | editor : Perdana

Pelaku Usaha Purwosari Waswas Soal Masa Depan Bisnisnya

Para pelaku usaha di sekitar palang kereta Purwosari mulai khawatir omzet mereka terkena dampak pembangunan Flyover Purwosari. Lantas bagaimana mereka menyikapi ini agar usahanya tidak rugi?

ANTONIUS CHRISTIAN, Solo, Radar Solo

SUARA bising kendaraan tidak membuat para pengunjung Rumah Makan Dapur Solo di Jalan Slamet Riyadi Purwosari beranjak dari tempat duduknya. Mereka tetap menikmati santap siang tanpa merasa terganggu. 

Namun, di balik keramaian rumah makan ini, ada rasa kekhawatiran dari pemiliknya. Sebab, jalan protokol di depan rumah makan ini bakal terkena proyek flyover. Mengantisipasi dampak negatif ke depan, pengelola rumah makan ini pun sudah ancang-ancang meninggalkan lokasi strategis ini dan beralih ke tempat baru.  

Marketing RM Dapur Solo Bono Poerbo mengatakan, rumah makan yang sudah berada di sisi barat palang kereta Purwosari sejak 2009 ini bakal tutup akhir bulan ini. Kebetulan kontrak tempatnya habis.

“Sebenarnya tahun ini mau diperpanjang kontraknya, malah mau menyewa bangunan di samping agar lebih lebar lagi. Tapi setelah ada kepastian pembangunan flyover ini, akhirnya kami memutuskan tidak memperpanjang kontrak,” ungkapnya.

Meski nantinya flyover ini sudah jadi, lanjut Bono, pihaknya tetap tidak akan kembali ke lokasi semula. Mereka tidak mau ambil risiko kawasan tersebut akan ramai setelah selesai dibangun. Ini berdasarkan pengalaman pengusaha terdampak Overpass Manahan yang saat ini masih bertahan. Mereka mengeluhkan penurunan omzet drastis.

“Kemudian kita belum tahu desain bawahnya seperti apa. Takutnya terlanjur menyewa nanti ke depannya terpotong. Malah tempat parkir kita hilang. Padahal, kalau usaha kuliner itu yang penting parkirannya. Ini masih mencari lokasi baru,” kata Bono.

Rasa khawatir juga dialami Drajat Supoemo, 45, pedagang di pasar buah Purwosari. Namun, dia masih menunggu apa yang terjadi ke depan. Apabila kondisi tidak menguntungkan, dia juga memilih mencari tempat baru. 

“Saya berharap masih ada solusi dari masyarakat, soalnya ini kaitannya soal kelangsungan hidup,” ucapnya.

Hal berbeda diungkapkan Listyowati, 62, seorang pedagang Tengkleng di Purwosari mengaku masih optimistis kalau lokasi tersebut masih ramai. Asalkan bentuk flyover seperti di Palur. “Kalau seperti Manahan ya ketar-ketir juga,” ungkapnya.

Pilihan tidak menutup usaha juga dilakukan oleh Eko Susilo, 54.  Pemilik bengkel di ruas Jalan Slamet Riyadi. Dia tidak menyoal proyek Flyover  Purwosari. “Soalnya punya pelanggan sendiri. Cuma saya minta dari arah barat ada akses untuk memutar agar bisa ke arah bengkel,” katanya. (*/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia