Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

BI Dorong BPR Masuk Pesantren

09 Januari 2020, 16: 06: 06 WIB | editor : Perdana

COBA DIGANDENG: Santri Ponpes Modern Islam Assalaam melihat gerhana matahari.

COBA DIGANDENG: Santri Ponpes Modern Islam Assalaam melihat gerhana matahari. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Bank Perkreditan Rakyat (BPR) diimbau membentuk kelompok-kelompok semacam gabungan kelompok tani (gapoktan). Dalam upaya menyalurkan kredit ke masyarakat. Bank Indonesia (BI) menilai BPR sebagai lembaga perbankan terdekat dengan masyarakat paling memahami karakter nasabah. 

BI menyebut proses penyaluran kredit bisa lebih cepat jika menggandeng kelompok masyarakat tingkat terbawah. Dibandingkan dengan lembaga perbankan yang terpusat.

“Itu sebenarnya keunggulan BPR. Kalau permasalahannya soal regulasi, bisa disiasati dengan membuat kelompok-kelompok. BPR bisa masuk ke sana melalui bantuan sosial. Salah satunya program e-warong milik Kemensos,” beber Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Surakarta Bambang Pramono.

Kelompok-kelompok tersebut kemudian saling mengawasi satu sama lain. Pola seperti ini, imbuh Bambang, sudah berjalan sejak lama. Jika lebih digiatkan lagi, maka sangat potensial bagi pasar BPR maupun BPR Syariah.

“BPR Syariah bisa masuk ke pesantren-pesantren. Ikut berkontribusi dalam pembiayaannya. Bahkan bisa melakukan pendampingannya juga. Bagaimana mereka membuat laporan keuangan sehingga bisa bankable,” paparnya.

Elektronifikasi data juga bisa menjadi solusi. Agar BPR dan BPR Syariah bisa memantau kondisi cash flow nasabah. Namun, untuk menerapkan imbauan tersebut. BPR menemui banyak kendala di lapangan. 

Ketua Paguyuban Pemegang Saham dan Komisaris (Pesakom) Wymbo Widjaksono menyebut sudah melakukan berbagai upaya. Termasuk imbauan BI dalam membuat kelompok-kelompok sosial tersebut. Tapi hasilnya nihil.

“Mindset masyarakat itu kalau diberi bantuan sosial, tidak membayar. Hanya menerima saja. Ini sulit bagi kami untuk menyalurkan kredit,” tandasnya.

Terdekat, Wymbo dan BPR bakal mencoba menjalin kerja sama dengan pemerintah. Terkait penyaluran kredit ke kelompok-kelompok sosial yang sudah ada. Sambil meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di BPR.

“Sekarang zamannya digitalisasi. SDM penting untuk memberikan pelayanan terbaik bagi nasabah,” paparnya. (aya/fer)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia