Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Penyakit Kusta Butuh Solusi Nyata, Hampir Tiap Tahun Ada Kasus Baru

09 Januari 2020, 16: 44: 42 WIB | editor : Perdana

Penyakit Kusta Butuh Solusi Nyata, Hampir Tiap Tahun Ada Kasus Baru

Kusta yang juga dikenal dengan nama lepra merupakan penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata. Tahun lalu, ada 20 penderita kusta yang tersebar di 12 kecamatan.

GEJALA penyakit ini mirip seperti panu, sehingga penderita terlambat menyadarinya. 

Kusta disebakan oleh bakteri mycobacterium leprae. Bakteri ini tumbuh pesat pada bagian tubuh yang bersuhu lebih dingin seperti tangan, wajah, kaki, dan lutut.

Cara penularan bakteri ini diduga melalui cairan dari hidung yang biasanya menyebar ke udara ketika penderita batuk atau bersin  dan dihirup oleh orang lain. Namun, penyakit ini tidak mudah untuk ditularkan. Perlu beberapa bulan kontak yang sering dengan penderita kusta.

Kepala Dinkes Wonogiri Adhi Dharma melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri Supriyo Heriyanto mengatakan, masa inkubasi kusta cukup lama. Seseorang yang terjangkit kusta bisa satu sampai lima tahun baru menyadarinya. 

“Kasus kusta di Kota Sukses rata-rata dibawa oleh para perantau dari daerah endemik kusta. Penyakit ini dapat didiagnosa berdasarkan temuan klinis berupa kelainan bercak pucat atau merah pada kulit yang mati rasa dan penebalan saraf. Gejala klinisnya hampir seperti panu tetapi tidak gatal,” bebernya kemarin (8/1).

Hal tersebut diamini dokter spesialis kulit dan kelamin RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri Rika Kusumawardani.

“Banyak penderita tidak menyadarinya (gejala kusta). Soalnya hanya bercak warna putih seperti panu tapi tidak gatal. Tidak bisa hilang dengan sendirinya,” terang dia.

Menurutnya, penularan kusta belum tentu bisa hanya dengan berjabat tangan sesaat. Mereka yang berpotensi tertular adalah orang-orang dekat. “Butuh waktu lama dan erat yang memungkinkan penularan. Orang-orang sekitarnya yang satu rumah, yang (interaksinya) erat, seperti anak, pasangan (suami istri) gitu," terangnya.

Seiring berjalannya waktu, bercak seperti panu tersebut bisa menyerang ke syaraf. Kulit menjadi kaku, tebal atau baal. Pada kasus stadium lanjut, saraf tubuh mati. Contohnya, jari tangan tidak bisa mencengkeram dan sebagainya. 

“Misalnya, saat ke sawah lalu kaki terkena duri. Bagi pasien kusta yang saraf tubuhnya telah mati, tidak akan terasa sakit meskipun kaki tertusuk duri. Tahu-tahu berdarah. Penyakit sekunder ini yang bisa mengakibatkan komplikasi hingga kecacatan," urai dia.

Mengacu data Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri, tahun lalu tercatat 20 kasus penyakit kusta yang tersebar di 12 kecamatan. "Yang temuan baru ada kasus kecacatan tingkat dua dialami satu penderita di Tirtomoyo," terang Suprio.

Ditambahkannya, hampir setiap tahun ada temuan baru penyakit kusta di Wonogiri. Namun, Kota Sukses buka endemik kusta. Usia penderita antara enam hingga lebih 50 tahun. Dengan pengobatan teratur, kusta bisa sembuh. (kwl/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia