Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Sragen

Siswi SMA Diintimidasi karena Tak Berjilbab,Ayah:Ada Paksaan & Ancaman

09 Januari 2020, 21: 23: 24 WIB | editor : Perdana

Agung Purnomo, ayah siswi Z telah meminta klarifikasi kepada pihak sekolah dan akhirnya tercapai perdamaian

Agung Purnomo, ayah siswi Z telah meminta klarifikasi kepada pihak sekolah dan akhirnya tercapai perdamaian (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN - Salah seorang siswi di SMAN 1 Gemolong diduga mendapatkan intimidasi dari teman sekolahnya karena tak mengenakan jilbab. Kekerasan psikologis terhadap siswi berinisial Z itu dilakukan oleh teman yang tergabung dalam ekstrakulikuler kerohaniawan Islam (rohis). 

Mengetahui jika sang putri mendapat intimidasi dan tekanan, Agung Purnomo, ayah dari Z langsung bereaksi.  Sebagai seorang ayah dia merasa perlu bertindak untuk melindungi putrinya. Lantas Agung mendatangi sekolahan untuk melakukan klarifikasi.

Agung tidak memungkiri, sang putri yang bersekolah di SMAN 1 Gemolong tidak menggunakan jilbab. Pada awalnya Z diimbau oleh guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah tersebut untuk berjilbab. 

"Kalau guru itu mengimbau agar berjilbab, kita senang karena diingatkan dan namanya ibadah memang harus saling mengingatkan," ujar Agung, Kamis (9/1). 

Tetapi setelah itu, ada anggota rohis yang mengirim pesan WhatsApp (WA) kepada anaknya. Inti dari isi pesan WA tersebut yakni menyebutkan azab tidak berjilbab dan konsekuensi muslim yang tidak berjilbab. 

"Awalnya saya anggap wajar karena tumbuh kembang anak," papar Agung. 

Tetapi setelah berjalannya waktu, setiap hari nomor dari anggota rohis tersebut terus mengirimkan pesan serupa dan dirasa mulai mengganggu. Karena merasa tidak nyaman, Z berkeluh kesah kepada Agung.  

"Karena meresahkan, saya sarankan diblokir. Namun setelah diblokir, ternyata masih banyak nomor lain yang masuk mengintimidasi untuk berjilbab,” papar Agung. 

Agung pun berusaha untuk berpikir dingin dan mengajak pemilik nomor yang mengirimi pesan WA putrinya untuk bertemu. Tujuannya mengajak diskusi guna mencari sumber masalah dan solusinya.

"Tapi jawabannya luar biasa bagi saya. Katanya, ketemu tapi tidak tau dalil untuk apa. Saya malah disuruh ketemu guru PAI," terang Agung.

Anak anggota rohis tersebut juga malah menantang untuk melihat saat di akhirat nanti. Bahkan orang yang mengirimkan pesan WA pada Z juga meminta agar tidak membawa masalah ini ke sekolah karena ini tetang agama.  

"Sejak kapan tidak boleh membawa masalah ke sekolah. Ini harus diselesaikan di sekolah," tegasnya.  

Tak terima dengan perlakuan tersebut, Agung menemui pihak sekolah untuk meminta kepastian dan penjelasan.

”Ada pemaksaan dan ada ancaman juga karena anak saya enggak pakai jilbab. Akhirnya kemarin saya berinisiatif tabayun klarifikasi ke pihak sekolah, dinas (disdikbud) dan rohis sekolah,” papar Agung.

Dimintai klarifikasi terkait persoalan tersebut, Sumanti, bagian humas SMAN 1 Gemolong menyampaikan, saat ini sudah ada kesepakatan perdamaian. Pihak sekolah juga sudah meminta maaf.

"Dari orang tua siswi Z malah akan membantu Rp 10 juta untuk pembangunan masjid. Sehingga (persoalan) di sekolah sudah selesai. Tidak ada radikalisme di sekolah ini," kata Sumanti.

Dia menegaskan hal ini hanya masalah salah paham.  Dari orang tua murid sudah mendapat penjelasan dan bisa menerima. (din/ria)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia