Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Karanganyar

4 Ha Hutan Lawu Dirusak Oleh Pengembang Wisata yang Salahi Izin

10 Januari 2020, 08: 04: 59 WIB | editor : Perdana

Kondisi hutang lindung di lereng Bukti Gunung Mitis, Desa Gondosuli, Tawangmangu yang sudah dipangkas oleh pengembang wisata.

Kondisi hutang lindung di lereng Bukti Gunung Mitis, Desa Gondosuli, Tawangmangu yang sudah dipangkas oleh pengembang wisata. (JAGALAWU FOR RADAR SOLO)

Share this      

KARANGANYAR – Sejumlah elemen masyarakat peduli lingkungan Karanganyar menyayangkan pengembangan wisata di lereng Bukti Gunung Mitis, Desa Gondosuli, Tawangmangu yang menyalahi izin. Pengembang diduga merusak hutan lindung milik Perhutani seluas hampir 4 hektare (Ha).

Koordinator Forum Peduli Gunung Lawu Yanuar Faizal mengatakan, selain menyalahi izin luas lahan yang dibangun untuk wisata, pengembang juga menebangi pohon dan memangkas bukit menggunakan alat berat. Seperti excavator dan backhoe.

Informasi yang dia terima, pengembang mengajukan izin ke Perhutani Jateng dan Perhutani Surakarta untuk mengelola 13 hektare lahan. Namun mereka hanya mendapatkan izin pengelolaan seluas 1,3 hektare.

”Sementara fakta di lapangan luas lahan hutan lindung yang sudah ditebangi dan dikeruk sekitar 5 hektare. Artinya mereka sudah menyalahi izin 4 hektare an,” beber Faizal kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (9/1).

Atas temuan mencengangkan tersebut, pihaknya bersama aktivis Gerakan Jagalawu meminta Perhutani maupun pihak terkait untuk mengambil sikap tegas. Pasalnya, kerusakan hutan lindung itu sudah cukup mengkhawatirkan. Pohoh-pohon dengan ketinggian sekitar 15 meter banyak yang ditebang. Selain itu, bukitnya dikepras dengan alat berat.

”Kami tidak mempermasalahkan mau mengembangkan wisata di sana. Yang jadi persoalan adalah penggunaan alat berat, kemudian lahan yang dikembangkan melebihi izin,” imbuh aktivis yang juga menolak pengembangan geothermal di gunung Lawu itu.

Wakil Ketua Komisi A DPRD Karanganyar, Aan Sophuanudin yang menerima kabar tersebut berjanji akan mengecek ke lokasi.

”Kita akan cek semua terkait dengan izinnya. Meskipun itu lahan Pehutani, tetapi daerah yang dikembangkan masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Apabila itu merusak lingkungan tentu pemerintah daerah harus ikut mengambil tindakan,” ucap Aan.

Bupati Juliyatmono ikut geram dengan temuan tersebut. Dia meminta pengembang wisata di kawasan Lawu tetap memperhatikan kelestarian alam.

”Segera singkirkan alat berat di kawasan Gunung Lawu. Tinjau ulang semua wisata di Lawu. Karena konsep wisata alam tidak sedikitpun merubah posisi yang sudah ada, justru harus terus kita hijaukan,” tegasnya.

Informasi yang dihimpun, pihak Perhutani sudah menghentikan pembangunan kawasan wisata tersebut. Bahkan di lokasi sudah dipasangi garis polisi. (rud/adi)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia