Kamis, 20 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Kasus Perusakan Hutan Lawu, 7 Orang Diperiksa, Amankan 1 Ekskavator

11 Januari 2020, 07: 00: 59 WIB | editor : Perdana

CARI BUKTI: Polisi mengamankan barang bukti kayu hasil perusakan hutan Lawu di Kelurahan Blumbang, Tawangmangu kemarin

CARI BUKTI: Polisi mengamankan barang bukti kayu hasil perusakan hutan Lawu di Kelurahan Blumbang, Tawangmangu kemarin (RYAN AGUSTIONO/RADAR SOLO)

Share this      

KARANGANYAR – Tim Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Karanganyar mengusut kasus perusakan hutan lindung Gunung Lawu di wilayah Kampung Dawuhan, Kelurahan Blumbang, Tawangmangu. Polisi bahkan sudah melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi.

Kasat Reskrim Polres Karanganyar AKP Iswanto Yuwono mengatakan, tujuh orang sudah diperiksa terkait perusakan hutan lindung Gunung Lawu dengan alat berat. Dua di antaranya adalah pekerja pengemudi alat berat ekskavator serta seorang pegawai Perhutani. Selain itu, penyelidik juga sudah mengamankan barang bukti ekskavator, empat batang pohon serta rekaman video perobohan pohon yang viral.

“Kami masih mendalami kasus ini. Sejauh ini sudah ada tujuh orang yang dimintai keterangan,” jelas Iswanto kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (10/1).

Dari hasil penyelidikan, lokasi tempat kejadian perkara di Petak 45 – 2 Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Utara, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Tlogodlingo. Dugaan tindak pidananya adalah sengaja melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan yang tidak sesuai izin pemanfaatan hutan. Jika memenuhi unsur pidana, pelaku bisa dijerat Pasal 82 ayat 1 UU RI nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencaegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

”Kami sudah gelar olah TKP hari ini (Jumat). Tahapnya masih meminta klarifikasi ke beberapa pihak,” jelasnya mewakili Kapolres Karanganyar AKBP Leganek Mawardi.

Koordinator pekerja yang diperiksa, Suwarto mengaku menggunakan alat berat karena mempercepat pekerjaan. Sedianya lahan yang dikeruk tersebut akan dijadikan area parkir. ”Karena membahayakan pekerja, saya inisiatif menggunakan alat berat,” jelasnya.

Di sisi lain, Bupati Juliyatmono mendesak Perhutani mencabut izin pengembangan wisata di kawasan Gunung Lawu yang merusak lingkungan. Bupati meninjau lokasi pembangunan kawasan wisata itu bersama Satpol PP dan Forkompimca Tawangmangu, Kamis malam (10/1) sekitar pukul 21.00. Dia mengendarai mobil dinas mewahnya Jeep Wrangler Rubicon.


”Kami berharap KPH tegas mencabut izin pengembangan wisata ini. Karena hutan Lawu merupakan gentong airnya Solo raya. Maka harus dijaga bersama, jangan sampai merusak. Apalagi dengan dalih pengembangan ekowisata sama sekali tidak boleh sedikitpun merusak lingkungan,” tegas pria yang akrab disapa Yuli itu.

Asper BKPH Lawu utara KPH Surakarta, Widodo mengatakan, peristiwa tersebut merupakan kecerobohan pengelola wisata. Berdasarkan surat administratur, penggunaan alat berat dan merobohkan pohon tidak diperbolehkan karena merusak kawasan hutan lindung.

”Hutan ini termasuk kategori hutan lindung. Kami sudah memeringatkan sebanyak enam kali, tapi tetap tidak diperhatikan,” tutur Widodo.

Menurut surat perjanjian, proyek pembangunan tersebut diizinkan 1,6 hektare. Namun pembangunan baru dieksploitasi sebanyak 3/4 dari besarnya lahan. (rud/rm1/adi)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia