Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Penyaluran Kredit Lemah, Hanya Tumbuh 7-8 Persen

11 Januari 2020, 17: 52: 35 WIB | editor : Perdana

Penyaluran Kredit Lemah, Hanya Tumbuh 7-8 Persen

SOLO – Bank Indonesia (BI) memasang target pertumbuhan kredit mencapai 10-12 persen, tahun ini. Sepanjang 2019, BI mengevaluasi pertumbuhan kredit hanya 7-8 persen. Kepala Perwakilan Bank Indonesia (Kpw BI) Surakarta Bambang Pramono mengaku, bakal mencari penyebab rendahnya persentase tersebut.

“Apa yang menjadi penyebabnya? Apakah supply-nya yang bermasalah? Kalau iya, padahal likuiditas sudah kami kurangi. Sudah kami longgarkan. Atau karena demand-nya tidak ada? Kalau iya, kami create demand. Kami bantu fasilitasi kolaborasi dengan pemerintah,” ucap Bambang.

Financial technology (fintech) yang menjamur sering dianggap sebagai pengganjal lembaga perbankan. Padahal menurutnya, fintech hanya sebagai tools. Fintech sebagai shadow banking.

“Ketika lembaga perbankan dibuat ketentuan harus taat aturan yang demikan banyak, maka akan muncul sumber-sumber pembiayaan yang dibutuhkan mayarakat. Contohnya, ketika pedagang valuta asing kami atur, maka muncul pedagang gelap valuta asing. Nah, kondisi fintech ini sama," urainya.

Bambang mengaku, BI belum mengatur fintech. Sebab kemunculannya tergolong baru di dunia perbankan. Kendati BI sadar, pertumbuhan ekonomi masih diperlukan.

“Kami menyadari perbankan sudah harus mengikuti ketentuan sejak krisis moneter pada 1997. Mengharuskan mereka memenuhi aturan itu. Yang menjadi isu, seberapa ketat ketentuan yang harus diterapkan? Kalau dilonggarkan, seberapa longgar? Sehingga tanpa mempengaruhi stabilitas pertumbuhan ekonomi, targetnya tetap tercapai,” tandasnya.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau masyarakat mewaspadai penawaran fintech ilegal yang tersebar melalui SMS. Sebelum memutuskan meminjam dana melalui fintech, calon nasabah wajib kroscek Apakah fintech tersebut masuk daftar OJK atau tidak.

“Kalau tidak terdaftar, fintech ilegal akan meminta nasabah mengakses seluruh data yang dimilikinya. Bahkan seluruh kontak telepon nasabah. Itu tidak boleh,” beber Kepala Bagian Pengawasan Bank OJK Solo Dinavia Tri Riandari.

Menurutnya, edukasi semacam ini merupakan kewajiban semua pihak. Tidak hanya OJK saja. “Masyarakat tidak memikirkan itu. Yang penting dapat duit dulu. Karena suku bungan tinggi, lama-lama menjerat. Lebih baik datang ke lembaga perbankan langsung,” urainya. (aya/fer)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia