Sabtu, 25 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

Kondisi Perpustakaan Kampung setelah 12 Tahun Berdiri

12 Januari 2020, 07: 15: 59 WIB | editor : Perdana

SUMBER REFERENSI: Anak-anak membaca buku di perpustaan Kampung Mojosongo 1 Jalan Malabar Raya, RT 01, RW 16, Mojosongo, Jebres.

SUMBER REFERENSI: Anak-anak membaca buku di perpustaan Kampung Mojosongo 1 Jalan Malabar Raya, RT 01, RW 16, Mojosongo, Jebres. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Minat baca masyarakat belum mencapai tahap menggembirakan. Ditambah godaan mengakses media sosial via smartphone kian santer. Ini menjadi tantangan terbesar bagi perpustakaan kampung untuk menyedot warga datang dan membaca buku.

DI Kota Solo, sebanyak 18 perpustakaan kampung mulai dirintis sekitar 2008. Tentu tantangannya tidak sedikit. Mulai dari warga yang pasif karena merasa lebih mudah mengakses internet. Maupun datang hanya untuk nyantol wifi gratis.

Jarak rumah Rahma Safitri, 34, warga Kampung Nayu, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari dengan perpustakaan kampung setempat hanya hanya 50 meter. Tapi, dia mengaku tidak pernah menyambangi perpustakaan itu. Sibuk mengurus rumah menjadi asalannya.

“Sekarang kalau mau cari-cari juga bisa lewat internet. Belum tentu saya dapat dari sana (perpustakaan kampung). Tapi selama didirikan, cukup lumayan yang datang. Biasanya anak-anak. Jarang saya lihat ada orang dewasa baca buku,” ujar ibu dua anak ini.

Berbeda diungkapkan warga lainnya Daning Samudra, 31. Hampir setiap pagi dia mendatangi perpustakaan Kampung Nayu Barat. Buku resep masakan dan koleksi majalah jadi jujukan pencariannya. Itu dilakukan sambil menunggu anaknya yang sekolah di SDN 2 Nayu Barat.

“Menurut saya tempatnya nyaman. Kalau untuk koleksi buku, mungkin karena dekat sekolah jadi lebih banyak buku anak-anak dan pelajaran. Buku untuk orang tua sedikit. Tapi bagus, berarti lingkungan sini peduli dengan budaya membaca sampai ada perpustakaannya,” ujar warga Kampung Bibis Baru, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari itu.

Pengelola perpustakaan Kampung Kelurahan Nusukan Nur Andini mengakui, tidak gampang mengajak orang dewasa datang ke perpustakaan. Dia harus jemput bola. Caranya dengan membawa buku ke acara PKK kampung, baik ditingkat RW hingga RT.

“Ibu-ibu sambil menunggu acara membaca buku. Sekarang sedang saya pikirkan cara mengajak bapak-bapaknya gemar baca buku. Belum dapat celah caranya,” katanya.

Selama ini, pengunjung perpustakaan mayoritas anak-anak. Per hari sekitar 20 anak. Mereka datang sekitar pukul 14.30 atau berbarengan dengan jadwal pulang sekolah. “Ada yang baca di tempat, ada yang dipinjam dibawa pulang. Aturannya setiap anak pinjam satu buku, jangka waktunya satu hari. Kalau terlalu lama resiko hilang. Sampai anaknya takut datang lagi ke sini. Terus saya bilang, tidak apa-apa hilang, tapi kalau sudah ketemu minta tolong dikembalikan,” jelas dia.

Kondisi serupa didapati di Perpustaan Kampung Mojosongo 1 Jalan Malabar Raya, RT 01, RW 16, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres. Selain baca buku, anak-anak datang ke perpustakaan untuk mengakses wifi gratis 

“Jam operasionalnya dari pukul 08.00. Tutup pukul 17.00. Kadang ada juga anak yang datang malam. Mau pinjam buku buat referensi selain buku dari sekolah,” kata Johanes Sutarno, pengelola perpustakaan setempat. 

Sekitar pukul 18.00, Sutarno kembali lagi ke perpustakaan untuk membunyikan alarm wajib belajar. Ya di kampung ini menerapkan jam wajib belajar mulai pukul 18.30-20.30. 

Untuk koleksi buku, Sutarno menyebut dari Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Surakarta, kelurahan, maupun corporate social responsibility (CSR) lingkungan sekitar.

Guna memudahkan pembaca, koleksi buku dikelompokkan sesuai jenisnya kemudian diberi nomor. Peminjam buku untuk dibawa pulang diberi waktu selema sepekan. Tapi, ada juga yang molor. “Namanya anak-anak, pasti ada yang telat mengembalikan. Biasanya lupa menyimpan. Tapi sejauh ini belum ada yang hilang,” beber dia.

Cara lain diterapkan Muji Mulyani, pengelola perpustakan Kelurahan Serengan di Jalan Jamsaren No. 414, RT 02 RW 10 Kelurahan/Kecamatan Serengan untuk menarik minat warga baca buku. Lokasi perpustakan dia jadikan pusat kegiatan masyarakat. Seperti pertemuan PKK hingga karangtaruna.

“Secara otomatis yang namanya sedang ada di perpustakaan, ketika sedang ada kegiatan, rapat misalnya, peserta pasti mengambil buku untuk dibaca. Jadi budaya membaca masyarakat ada,” tuturnya.

Selain itu, perpustakaan setempat membuat program Gerakan Dua Ribu (Gerdu), yakni semacam pendampingan belajar. “Jadi daripada mengerjakaan PR di rumah, bisa digarap di perpus dengan didampingi karangtaruna. Waktunya setiap Senin dan Kamis ketika jam wajib belajar,” ucap dia.

Perpustakaan Kelurahan Serengan, imbuh Muji, tambah ramai ketika jam istirahat kegiatan belajar mengajar. Mengingat lokasinya berdekatan dengan pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK). (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia