Sabtu, 25 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Olahraga

Lebih dekat dengan Atlet Para Badminton Leani Ratri Oktila

12 Januari 2020, 12: 40: 59 WIB | editor : Perdana

NUR ISROTUN NAFISATULINI/RADAR SOLO

NUR ISROTUN NAFISATULINI/RADAR SOLO (NUR ISROTUN NAFISATULINI/RADAR SOLO)

Share this      

Tak banyak yang tahu, ternyata Indonesia punya beberapa atlet yang berstatus peringkat 1 dunia. Salah satunya adalah Leani Ratri, yang menariknya dia berlabel juara dunia di dua kelas berbeda. Berikut sosoknya? 

 NUR ISROTUN NAFISATULINI, Radar Solo, Sukoharjo

Sosok ramah ini menyapa dengan sangat baik, ketika koran ini memberanikan diri untuk menemuinya. Atlet andalan Indonesia dari cabor para badminton, Leani Ratri Oktila, tentu tak pernah henti-hentinya memberikan kebanggaan buat Indonesia. Tentunya karena prestasi yangdicatatkannya. 

Dia siap terjun di dua event bergengsi tahun ini. Yakni ASEAN Para Games (APG) di Filipina, Maret mendatang, dan Paralympic Games di Tokyo Jepang, Agustus nanti. Di luar itu, beberapa single event internasional siap diikutinya.

Apa yang menarik pada dirinya?, tentu saja lantaran dia berlabel peringkat 1 dunia. Semakin menariknya, tercatat di dua kelas berbeda. Wow pastinya.

Di kelas women's single standing lower 4 (WS SL4), Ratri peringkat 1 dunia dengan tabungan 3460 poin. Dia unggul dari Hefang Cheng asal Tiongkok, dan Sagoy Helle Soffie (Norwegia) di peringkat dua dan tiga dunia.

Sedangkan di kelas mixed doubles standing lower 3-standing upper 5 (MX SL3-SU5), Ratri yang berpasangan dengan Hary Susanto berstatus peringkat 1 dunia saat ini. Keduanya unggul dari pasangan Prancis (Lucas Mazura/Faustine Noel), Thailand (Siripong Teamarrom/Nipada Saensupa) dan Jerman (Jan Niklas/Katrin Seibert) di peringkat dua, tiga dan empat dunia di kelas ini.

Satu kelas lainnya, yakni di kelas women's doubles standing lower 3-standing upper 5 (WD SL3-SU5), Ratri yang berpasangan dengan Kalimatus Sadiyah berstatus peringkat dua dunia. Keduanya kalah poin dari pasangan Tiongkok, Hefang Ma/Hyihui MA.

Di APG di dibebai tiga emas, sedangkan di Paralympic minimal satu emas diharapkan bisa disumbangkannya. Sangat diharapkan karena Indonesia belum pernah meraihnya dalam sejarah

”Di APG, targetnya raih tiga emas. Yakni di kelas lower 4. Baik nomor single, double, dan mixed double. Ini ketiga kalinya saya ikut APG. Sebelumnya di Singapura sama Malaysia, masing-masing raih tiga emas,” jelas wanita berusia 28 tahun tersebut.

Wanta asal Pekanbaru ini sendiri main di kelas standing lower, karena dikategorikan disabilitas dibagiankaki. Dia memang  masih mampu berdiri tegap, tapi ada kecacatan pada kakinya. Sehingga dalam berjalan maupun berlari kurang seimbangan.

Dia mengakui sempat mengalami  alami kecelakaan sepeda motor pada sembilan tahun silam. Ini mengakibatkan kaki kiri dan tangannya patah. Kakinya jadi  selisih 7 cm. 

Bersyukur dia dikenalkan dengan  organisasi National Paralympic Committee (NPC), yang membuka dirinya untuk terjun di berbagai kejuaraan para games.

Dia bersyukur, dukungan orang tanya jadi penguat buatnya untukmengembangkan skillnya. Dengan basic atlet yang sudah dia tekuni sejak umum 7 tahun, tentu membuat dia bisa mengembangkannya hingga kini berstatus atlet dunia. ”Orang tua memang cukup berperan buat saya. Jadi motivasi,” ujarnya. (*/nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia