Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

Mengenal Penjual Takoyaki dan Ramen asli Jepang di Solo

13 Januari 2020, 08: 05: 59 WIB | editor : Perdana

SOLID: Hada Hiroshi dan sang istri Nurul Dewi Saraswati. Foto kanan, warung takoyaki dan ramen miliknya.

SOLID: Hada Hiroshi dan sang istri Nurul Dewi Saraswati. Foto kanan, warung takoyaki dan ramen miliknya. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Share this      

Perjuangan pria asli Jepang Hada Hiroshi menyunting pujaan hatinya asal Solo Nurul Dewi Saraswati, 42, ini penuh liku perjuangan. Kini pria 63 tahun ini kembali menyedot perhatian ketika membuka usaha di lapak sederhana menjual menu khas Negeri Sakura. Seperti apa kisahnya?

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

BISA berbincang dengan pasangan suami istri (pasutri) ini tidak mudah. Mengingat warung takoyaki dan ramen mereka tak pernah sepi pembeli. Pasutri ini yang memasak dan melayani langsung pembeli. 

“Tahun 1998 saya dikirim sekolah ke Jepang untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Saya dulukan sekolah tari di SMKI (sekarang SMKN 8 Surakarta). Kebetulan si ayah (Hiroshi) waktu itu menonton penampilan saya,” ujar Nurul didampingi sang suami yang belum fasih bahasa Indonesia ini.

Usai pentas, salah satu penonton menghampirinya untuk mengajak berkenalan. Nomor telepon menjadi hal pertama yang diminta oleh pria Jepang itu. Setelah itu, komunikasi terus berjalan apik dan akhirnya asmara pun terjalin di antara mereka berdua. 

“Enam bulan saya ada di Jepang dan 1999 awal itu saya balik ke Indonesia. Dia (Hiroshi) ikut ke Indonesia karena ingin mengenal keluarga di Solo,” kata Nurul.

Apa yang disukai dari Hiroshi? Romantiskah? “Kalau pria Jepang itu tidak romantis. Tapi dia  pengertian dan pekerja keras. Makanya setelah pensiun dari pekerjaan di Jepang dan tinggal di Indonesia dia bingung kalau menganggur. Akhirnya iseng-iseng jual takoyaki karena dia suka memasak,” kata dia.

Empat tahun menjalin asmara mereka saling berganti saling mengunjungi. Pada 2002, akhirnya Hiroshi meminang Nurul. Pernikahan pun digelar di kedua negara, baik di Jepang maupun di Indonesia seiring peraturan pemerintah kala itu. “Pada 2002 kami menikah. Bulan madu di Jepang karena suami masih kerja di sana,” beber Nurul.

Keunikan menikah dengan warga negara asing dan melangsungkan pernikahan di dua negara berbeda ini merupakan pengamalan tersendiri. Namun ada juga banyak lika-liku, terutama dalam mengurus administrasi. 

“Empat anak saya ini kewarganegaraannya berbeda-beda. Anak pertama (Dewa Hiroharu) warga negara Indonesia karena kebetulan waktu itu lahirnya di Indonesia. Tapi anak kedua (Hada Ryuta) saya warga negara Jepang karena lahirnya juga di sana. Nah anak saya yang ketiga (Hada Reina) dan keempat (Hada Kirara) ini punya dua kewarganegaraan (Jepang dan Indonesia) meski lahirnya di Jepang,” ujarnya.

Kebetulan waktu itu pemerintah Indonesia sudah menerapkan aturan baru. Sesuai aturan sekarang, anak-anak yang punya dua kewarganegaraan berhak memilih warga negara  setelah berusia 17 tahun.

Salah satu kisah datang saat Nurul dan Suami hendak mengurus surat-surat pengganti akta kelahiran. Agar bisa menempuh pendidikan di Indonesia, ketiga anaknya yang dobel kewarganegaraan maupun anaknya yang masih berstatus warga negara asing harus mengantongi surat pengganti akta kelahiran dari Kedutaan Jepang dan mendapat persetujuan dari Pemerintah Indonesia. 

“Waktu itu harus wira-wiri karena ada salah ketik kota kelahiran anak saya di di kartu keluarga (KK). Harusnya kota kelahiran anak-anak itu sama seperti ayahnya (Hiroshi) di Toyohashi, Aichi-Ken. Tapi petugasnya salah tulis, lalu saya datangi kantor disdukcapil. Kata petugasnya kalau di KK memang tidak bisa ditulis lengkap. Ya sudah,” kenang dia.

Pengalaman lainnya datang dari sekolah tempat anaknya mengenyam pendidikan. Karena mayoritas anaknya bersekolah cukup lama di Jepang, tidak semua anaknya lancar memakai bahasa Indonesia saat mulai menetap di Solo 2 tahun terakhir ini. Bahkan dirinya sempat dipanggil wali kelas untuk membicarakan si buah hati. 

“Semua anak saya sekolah di sekolah negeri. Dulu awal itu gurunya sempat bilang kalau dalam tiga bulan belum bisa menyesuaikan akan dikembalikan. Nah, anak saya juga bilang, katanya kesulitan di kelas dan minta balik ke Jepang saja. Tinggal sama neneknya di sana. Tapi lama kelamaan akhirnya bisa adaptasi, bahkan tidak kesulitan dalam mencari kawan,” kata Nurul.

Setelah anak-anaknya bisa adaptasi, dia dan suami kemudian merintis usaha kecil-kecilan dengan membuka warung makan takoyaki di salah satu pos kamling di Kemplong, Desa Congkol, Mojolaban, Sukoharjo. Jaraknya hanya beberapa puluh meter dari rumahnya. Sebelum akhirnya membuka kedai sederhana di Pucangsawit, Jebres, Surakarta. 

“Awalnya itu takoyakinya masih belum seperti ini. Karena dulu yang beli hanya anak-anak kecil di kampung. Baru ke resep takoyaki yang benar baru setahun ini di Pucangsawit ini,” jelas dia.

Hingga saat ini, warung takoyaki dan ramen mereka tak pernah sepi. Sehari, 700 butir takoyaki dan 100 mangkuk ramen selalu ludes terjual. Kini usahanya mulai berkembang dan mulai merintis cabang keduanya untuk mempopulerkan makanan khas Negeri Sakura ini. 

“Ini yang bantu-bantu keluarga semua. Sebetulnya banyak tawaran kerja sama dari luar kota, tapi sepertinya belum sanggup. Mungkin untuk awal mau buka cabang dulu di Solo Baru. Semoga lancar, toh nanti kalau jadi bisnis keluarga bisa diteruskan anak-anak karena mereka juga bisa bikin masakan Jepang. Nanti namanya usahanya diganti Takohiro,” tutur Nurul. (*/bun) 

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia