Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Staf BKK Eromoko Korupsi Miliaran, Nekat Manipulasi Data Nasabah

14 Januari 2020, 06: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Kasi Intel Amir Akbar (kanan) dan Kasi Pidsus (kiri) menggelandang tersangka Giri Rahmanto (tengah) ke mobil yang akan membawa tersangka ke Rutan Klas IIB Wonogiri

Kasi Intel Amir Akbar (kanan) dan Kasi Pidsus (kiri) menggelandang tersangka Giri Rahmanto (tengah) ke mobil yang akan membawa tersangka ke Rutan Klas IIB Wonogiri (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI— Kejaksaan Negeri Wonogiri berhasil membongkar dugaan korupsi yang dilakukan karyawan di Perusahaan Daerah (PD) Badan Kredit Kecamatan (BKK) Eromoko Cabang Pracimantoro. Potensi kerugian negara mencapai Rp 2,7 miliar. Staf di bank daerah ini ditetapkan sebagai tersangka atas kasus ini. 

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Wonogiri Ismu Armanda Suryono membeberkan, penyidik telah menetapkan Giri Rahmanto, 36, sebagai tersangka dugaan korupsi di tubuh PD BKK Eromoko Cabang Pracimantoro. Warga Dusun Sumber RT 2 RW 1 Desa Puloharjo, Kecamatan Eromoko itu kini ditahan kejari 

“Saksi dan bukti sudah banyak. Hasil perhitungan kerugian negara dari BPKP (Badan Pengaawasan Keuangan dan Pembangunan) juga sudah kuat. Maka, Giri Rahmanto kita tetapkan sebagai tersangka,” kata Ismu, Senin (13/1).

Menurut Ismu, tersangka menjalankan aksinya pada 2014 sampai 2017 lalu. Bermodal kepercayaan para nasabah yang rata-rata adalah para pedagang di Pasar Pracimantoro, tersangka memanipulasi setoran atau penarikan dana nasabah. Dengan lihai, tersangka juga memanfaatkan sistem jemput bola yang menjadi program BKK Eromoko Cabang Pracimantoro.

“Misalnya ada nasabah menabung Rp 10 juta, oleh tersangka di buku tabungan juga ditulis Rp 10 juta. Lalu nasabah diberi kuitansi kosong dan ditandatangani nasabah. Nah, uang yang disetorkan ke BKK tidak semua. Misal hanya Rp 1 juta. Jadi yang Rp 9 juta masuk kantong pribadi,” papar Agus Irawan.

Kepala Kejaksaan Negeri Wonogiri Agus Irawan Yustisianto menambahkan, setidaknya ada 28 nasabah dengan 45 rekening. Rata-rata rekening korban berkisar Rp 200 juta sampai Rp 600 juta. Setelah melalui cek kesehatan di rumah sakit, hingga 20 hari ke depan tersangka dititipkan ke Rutan Kelas IIB Wonogiri. Secepatnya, berkas akan segera dikebut untuk segera dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang.

“Tersangka dijerat dengan pasal 2, pasal 3 dan pasal 8 juncto pasal 18 UU Tipikor. Ancaman hukumannya beragam. Dari satu sampai empat tahun,” katanya. (kwl/bun)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia