Jumat, 24 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Klaten

Longsoran Batu dari Perbukitan Seribu Ancam 896 Jiwa di Cawas

14 Januari 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Jajaran Muspika Cawas beserta BPBD Klaten saat menyurvei batuan yang longsor di perbukitan seribu, Kabupaten Gunungkidul, kemarin (13/10)

Jajaran Muspika Cawas beserta BPBD Klaten saat menyurvei batuan yang longsor di perbukitan seribu, Kabupaten Gunungkidul, kemarin (13/10) (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Batuan dari Perbukitan Seribu, Kabupaten Gunungkidul mengancam keselamatan 896 jiwa yang tinggal di Desa Burikan, Kecamatan Cawas. Sebab, posisi batuan tersebut mulai miring dan hanya tertahan rumpun bambu dengan jarak sekitar 1,5 km di atas permukiman warga.

Pada 7 Januari lalu, warga mendengar suara gemuruh dari arah tebing. Tepat di atas permukiman mereka. Saat dicek, ternyata batu besar berdiameter 5 meter longsor sejauh 500 meter. Beruntung, batu tersebut masih tertahan rumpun bambu yang tumbuh di tebing.

Jika tidak ada penanganan darurat, dikhawatirkan batuan-batuan besar yang lain longsor dan menimpa rumah warga. Karena berada di kemiringan 45 derajat. Apalagi saat ini sudah masuk musim penghujan.

“Setelah dapat laporan, kami langsung melakukan kajian cepat. Bersama tim reaksi cepat (TRC) BPBD Klaten untuk mengetahui kondisinya,” terang Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten Sri Yuwana Haris Yulianta, kemarin (13/1).

Saat survei, BPBD didampingi jajaran musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) Cawas dan pemerintah desa Burikan. Meninjau titik awal keberadaan batuan yang masih masuk wilayah Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul. Meski potensi bencana berada di Gunungkidul, tetapi mengancam permukiman warga Kota Bersinar.

Berdasarkan data BPBD, daerah yang terancam longsoran batu yakni Dusun Mundon dan Dusun Groyokan, Desa Burikan. Di Dusun Mundon terdapat 141 kepala keluarga (KK) dengan 417 jiwa, tinggal di RT 17 dan RT 18 RW 7. Sedangkan di Dusun Groyokan terdapat 159 KK dengan 479 jiwa yang tinggal di RT 18, RT 19, dan RT 20 RW 8.

“Rencananya dua sampai tiga hari mendatang akan memetakan potensi longsoran batu dengan melibatkan berbagai unsur. Termasuk SAR (Search and Rescue) Klaten. Kami pantau sepanjang perbukitan dengan bantuan drone. Apalagi sekarang sudah masuk musim penghujan,” jelas Haris.

Hasil pemetaan, lanjut Haris, akan ditentukan jalur evakuasi yang bisa digunakan warga saat terjadi longsor. Termasuk titik pengusian, titik kumpul, hingga metode peringatan dini. Serta meningkatkan kegiatan pengurangan risiko bencana lewat ronda malam.

Usai pemetaan, dilanjutkan analisa dan diskusi terkait penanganan potensi bencana tersebut. Terutama potensi bencana pada betangan perbukitan sepanjang 1.200 meter tersebut. 

Kepala Desa (Kades) Burikan Surata mengatakan, batuan menggelinding mengarah ke desanya. Rencananya akan dipecah. “Memang sudah pecah menjadi tiga bagian. Tadi (kemarin) dari hasil survei, ada satu batuan yang berpotensi jatuh ke bawah,” urainya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia