Sabtu, 25 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

In Memoriam Halim Sugiarto, dari Klewer, Dirikan Klub dan GOR Bhinneka

15 Januari 2020, 08: 50: 59 WIB | editor : Perdana

Sosol Halim Sugiarto memberi jasa besar bagi dunia basket di Solo

Sosol Halim Sugiarto memberi jasa besar bagi dunia basket di Solo

Share this      

Lagi, Seorang tokoh besar di dunia basket Kota Solo berpulang. Halim Sugiarto (Lie Hong Mee) menghembuskan napas terakhir, Selasa (14/1). Seperti apa jasanya bagi perbasketan Kota Bengawan?

FERY ARDI, Solo, Radar Solo

PUBLIK basket Kota Bengawan dikagetkan kabar duka meninggalnya Halim Sugiarto, kemarin. Maklum, jasanya dalam memopulerkan basket bersama almarhum H.M. Lukminto, bos PT Sri Rejeki Isman (Sritex) cukup besar.

Sejak masih muda, Halim dikenal hobi bermain basket. Hingga akhirnya dia dipertemukan dengan Lukminto. Awal pertemuan keduanya terjadi bukan di lapangan. Melainkan di Pasar Klewer. Tepatnya pada 1966 silam.

Waktu itu, Halim dan Lukminto sama-sama menjual bahan-bahan tekstil di Pasar Klewer. Sama-sama suka basket dan mayoritas pedagang di sana juga suka basket, mereka berniat mendirikan sebuah klub. Tepat pada 1967, berdirilah klub Bhinneka Solo.

Pada sebuah kesempatan wawancara di kediamannya, beberapa waktu silam, almarhum Halim menceritakan pemilihan nama Bhinneka bukan tanpa alasan. Sebab mayoritas pemainnya berasal dari berbagai penjuru daerah. Dipilihlah nama itu sesuai filosofi lambang negara: Bhinneka Tunggal Ika.

“Dulu, awalnya saya dan Luk (sapaan H.M. Lukminto) itu jualan kain di Pasar Klewer. Karena sering kumpul dan Luk suka basket, kami dan teman-teman pedagang yang juga suka basket ingin buat klub. Akhirnya berdiri Bhinneka Solo,” tutur Halim.

Pada awal didirikan, klub Bhinneka diperkuat pemain dari berbagai latar belakang etnis dan asal daerah berbeda-beda pula. Tidak hanya Solo. Saat itu, Bhinneka bukan klub pertama di Solo. Karena sebelumnya sudah menjamur klub basket lokal. Ada Garuda Muda, CTH, dan TNH.

Belum punya GOR basket memadai, latihan Bhinneka nomaden. Sering berpindah-pindah tempat. Terkadang mereka berlatih di Balai Prajurit (kini digunakan untuk Beteng Trade Center), Mangkunegaran (kini dipakai sebagai gedung MTA), Monumen 45 Banjarsari (Monjari), dan kawasan Kelurahan Kepatihan.

Lambat laun, Bhinneka mulai menunjukkan perannya. Pada 1969, Bhinneka mewakili tim basket Jawa Tengah pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON VII) di Surabaya, Jawa Timur. “Dulu lawan kami dari Jakarta, Bandung, dan Medan. Sayang kami belum dapat emas,” kenang Halim.

Di level junior, Bhinneka secara mengejutkan berhasil menjadi champions kejuaraan nasional basket tingkat junior U-17 di Malang, Jawa Timur, 1994 silam. Nah, dari sini embrio berdirinya GOR Bhinneka yang kini telah berubah nama jadi Sritex Arena.

Pascajuara, Halim langsung membangun sebuah GOR basket berstandar internasional. Pembangunan GOR ini merupakan nazar Halim jika Bhinneka junior berhasil juara. Hanya butuh waktu setahun, beridiri GOR Bhinneka yang diklaim sebagai yang termegah di Jawa Tengah.

Keberadaan GOR ini pula yang lantas menjadi awal keikutsertaan Bhinneka Solo di Kobatama musim kompetisi 1996. Demi kelangsungan hidup tim, Sritex akhirnya menjadi sponsor utama dari 1999 sampai 2007. Dan nama klub pun berubah jadi Bhinneka Sritex. 

“Saya berani ikutkan Bhinneka ke Kobatama dan IBL (Indonesian Basketball League). Luk juga ikut jadi pengurus sekaligus sponsornya,” beber Halim.

Akan tetapi, krisis finansial memaksa Bhinneka Sritex bubar di 2009. Halim mengaku sudah tidak mampu menghidupi klub seorang diri. Mulai dari membayar gaji, akomodasi tim selama kompetisi, hingga pendidikan para pemain. “Akhirnya semua aset Bhinneka termasuk GOR saya jual ke Luk di 2010,” paparnya.

Tidak butuh waktu lama bagi Lukminto mengakuisisi GOR Bhinneka. Itu semua tak lepas dari peran orang-orang terdekatnya. Termasuk Wimbo Wicaksono (paman Halim Sugiarto) dan tokoh Tionghoa Solo Sumartono Hadinoto.

Sumartono menyebut Halim sebenarnya masih setengah hati melepas GOR Bhinneka. Sebab, dikhawatirkan GOR tersebut beralihfungsi ketika sudah dijual nanti. Namun, Sumartono yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Solo meyakinkan ke Halim. GOR Bhinneka tetap difungsikan sebagai pusatnya basket jika beralih ke tangan Lukminto.

“Waktu itu memang tidak ditawarkan ke pihak lain. Karena Pak Halim takut berubah fungsi. Karena Pak Luk juga hobi basket, tanpa menawar, GOR Bhinneka langsung dibeli. Diganti namanya jadi Sritex Arena,” terang Sumartono.

Sampai sekarang, Sritex Arena tetap berfungsi sebagai venue berbagai ajang basket. GOR berkapasitas 3.500 penonton ini juga sering digunakan untuk hajatan cabang olahraga lainnya. Yakni pencak silat, karate, futsal, bola voli, hingga bulu tangkis. Termasuk Developmental Basketball League (DBL) serta Junior Basketball League (JRBL). (*/bun)

(rs/fer/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia