Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Solo
Pembangunan Flyover Purwosari

Purwosari Ditutup, Beri Akses Khusus ke Pusat Bisnis & Pendidikan

16 Januari 2020, 09: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Perlintasan sebidang Purwosari bakal ditutup begitu proyek flyover dimulai. Namun, untuk pelaku usaha dan pelajar di sekitar proyek tetap diberi akses khusus

Perlintasan sebidang Purwosari bakal ditutup begitu proyek flyover dimulai. Namun, untuk pelaku usaha dan pelajar di sekitar proyek tetap diberi akses khusus (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surakarta bakal menerapkan akses terbatas seiring penutupan simpang sebidang kereta api Purwosari pada 4 Februari mendatang. Akses terbatas itu diberikan agar lalu lintas di pertokoan, hotel, sekolah, maupun fasilitas umum sekitar proyek flyover terakomodasi. Selain itu, telah disiapkan kantong parkir cadangan.

Kepala Dishub Kota Surakarta Hari Prihatno mengungkapkan, penerapan akses terbatas itu dilakukan guna menunjang penutupan simpang sebidang kereta api Purwosari. Pasalnya, penutupan itu berdampak pada lalu lintas di sekitarnya. 

“Pelaksana proyek meminta per 4 Februari akses sekitar Purwosari ditutup untuk memperlancar pembangunan. Sejak saat itu manajemen dan rekayasa lalu lintas tahap awal mulai diterapkan,” jelas  dia, Selasa (15/1).

Pada 4 Februari mendatang, arus kendaraan dari arah Kartasura yang melintas Jalan Slamet Riyadi akan diarahkan ke Jalan A. Yani lewat Overpass Manahan tembus kembali Jalan Slamet Riyadi. Hal serupa diterapkan untuk lalu lintas di simpang empat Purwosari (Sala View Hotel). Arus kendaraan dari arah timur (Gendengan) diarahkan mengambil akses ke utara (Jalan Hasanudin) atau ke selatan di Jalan Perintis Kemerdekaan.  Sementara arus kendaraan di Jalan Agus Salim dialihkan mengambil rute melalui Jalan Transito.

“Bagi kendaraan roda dua yang mau melintas ke area sekolah di barat rel atau ke area hotel dan pertokoan di timur rel Purwosari masih diakomodasi, namun terbatas. Nanti kami sisakan akses parkir cadangan untuk menampung kendaraan yang tidak bisa melintas di sekitar lokasi proyek,” jelas Hari.

Untuk kantong parkir cadangan, pihaknya memberikan lahan seluas 200 meter di timur Stasiun Purwosari. Dishub menghitung masih ada sisa lahan cukup luas untuk menampung kendaraan roda empat atau besar yang tidak bisa mengakses toko, perkantoran, atau hotel setempat. 

Sementara di bagian barat, pihaknya tidak menerapkan kantong parkir cadangan dan memaksimalkan lahan parkir yang dimiliki masing-masing toko, perkantoran, hotel, atau sekolahan di lokasi itu. “Kalau kantong parkir cadangan cukup luas. Bisa menampung ratusan kendaraan roda empat dan dua,” papar dia.

Untuk sementara, skema penataan seperti ini bakal diterapkan pada tahap awal pengerjaan. Dan sangat dimungkinkan berubah saat pembangunan Flyover Purwosari menyentuh tahap pembangunan yang lebih tinggi. 

“Penataan lalu lintas sekitar bisa berubah sesuai kebutuhan. Namun, untuk kantong parkir cadangan sementara seperti itu untuk waktu cukup panjang. Tahap awal Februari-Juni,” jelas dia.

Penerapan akses terbatas dan penyediaan kantong parkir cadangan itu berjalan beriringan dengan penerapan jalur alternatif bagi bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dari arah Sukoharjo-Wonogiri langsung diarahkan mengambil jalur alternatif melalui Baki, setelah melewati Jembatan Bacem, Sukoharjo. 

Kemudian diarahkan melalui Pakis dan tembus ke jalan Solo-Jogja. Sementara bus antarkota dalam provinsi (AKDP) diarahkan ke Jalan Veteran, Jalan Hinggowongso, Pasar Kembang, Jalan Gajah Mada, Stasiun Balapan, Jalan S. Parman, sebelum masuk ke Terminal Tirtonadi. 

“Kami sudah koordinasi lintas wilayah dengan Pemkab Sukoharjo untuk antisipasi dan pengalihan arus kendaraan lintas, termasuk bus AKAP. Kalau di jalur dalam kotanya penyiapan jalur alternatif bus AKDP,” jelas Hari.

Dampaknya bakal terjadi potensi kemacetan di simpang Faroka, Kerten, Fajar Indah, Tugu Wisnu, Pasar Nongko, Pasar Kembang-Ngapeman hingga ke simpang lima Balapan. “Potensi kepadatan karena pelimpahan arus lalu lintas cukup besar di beberapa titik. Mungkin paling padat di simpang lima Balapan karena dilewati Bus AKDP. Lokasi itu merupakan jalur padat lalu lintas dan ada simpang sebidang kereta,” beber dia.

Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo meminta masyarakat bisa sedikit bersabar atas dampak yang ditimbulkan saat pembangunan. Mengenai kekhawatiran pekerja atau masyarakat yang perkantoran atau tujuannya di sekitar proyek masih diakomodasi untuk melintas. “Ya nanti kalau misal roda empat tidak bisa masuk kan roda dua bisa. Atau jika terpaksa roda empat tidak bisa masuk bisa cari area parkir terdekat di sekitar lokasi,” tegas Rudy. (ves/atn/bun)

(rs/ves/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia