Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Eksistensi Pembuat Kue Keranjang di Solo,Tetap Jaga Resep Asli Leluhur

16 Januari 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Susana memproduksi kue keranjang di rumah produksinya di kawasan Balong, Sudiroprajan, Jebres, kemarin

Susana memproduksi kue keranjang di rumah produksinya di kawasan Balong, Sudiroprajan, Jebres, kemarin (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Biaya bahan produksi naik, produsen kue keranjang di Kota Bengawan mengeluh. Kenaikan ini berpengaruh pada harga jual kue keranjang. Satu biji kini dipatok Rp 36 ribu. Naik Rp 2 ribu dari harga kue keranjang sebelumnya yang hanya Rp 34 ribu. Imbasnya, daya beli masyarakat ikut menurun meski tidak signifikan.

“Sekarang apa-apa naik. Gula pasir naik Rp 2 ribu per kilogram. Kertas kaca untuk bungkus kue keranjang juga naik. Satu rim Rp 1 juta. Padahal, tahun lalu cuma Rp 800 ribu. Kalau kayak gini, masa saya tidak menaikkan harga kue keranjang,” kata pemilik toko kue keranjang di Pasar Gede Susana kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Sejak banyak beredar kue keranjang yang lebih murah, dia mengaku sudah tidak mengirim barang ke toko-toko kue. Dia memilih menerima pesanan dan pembeli yang datang langsung ke tempat pembuatan kue keranjang miliknya di kawasan Balong. Menurutnya, kue keranjang buatannya sudah memiliki pangsa pasarnya sendiri. Kendati harganya lebih mahal dibandingkan dengan kue keranjang lainnya.

“Saya sudah punya pelanggan loyal yang tiap tahun pesan di sini. Kalau pun harganya naik, tidak protes. Karena kami memang mengandalkan kualitas. Jadi rasanya enak dan tahan lama,” sambungnya.

Di toko-toko kue, banyak kue keranjang beragam rasa. Namun kue keranjang buatan Susana tetap bertahan pada resep asli asal Negeri Tirai Bambu. Yakni ketan dan gula pasir. Proses pembuatannya, ketan dan gula pasir dipanaskan kemudian dituang dalam cetakan. Lanjut dikukus selama 12 jam.

“Meskipun gula harganya naik. Saya tetap pakai gula. Tidak diganti pakai orson dan lain sebagainya. Karena kue keranjang ini hanya ditemui setahun sekali saat Imlek. Masa mau bikin kue keranjang yang tidak enak,” ungkapnya.

Tiap tahun, Susana sudah bersiap membuat kue keranjang sejak tiga pekan sebelum Imlek tiba. Tiap hari, dia bisa membuat sekitar empat kuintal kue keranjang. Seminggu jelang Imlek, saat pembeli mulai ramai, pembuatan kue keranjang mencapai satu ton. Kue keranjang itu sudah dipesan, sebagiannya dijual eceran untuk pembeli yang datang ke rumahnya.

“Omzetnya jauh menurun. Imlek sekarang sudah tidak seperti beberapa tahun lalu. Bukan karena biaya bahan produksi naik. Tapi memang sudah beda zamannya,” ujarnya. (aya/bun/ria)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia