Kamis, 20 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Boyolali

Setelah Rusak Terbakar, Jalur Pendakian Merbabu Tertutup Pohon Tumbang

16 Januari 2020, 10: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Petugas dari Balai Taman Nasional Gunung Merbabu Resort Selo memotong pohon ambruk di jalur pendakian dengan gergaji mesin, kemarin (15/1)

Petugas dari Balai Taman Nasional Gunung Merbabu Resort Selo memotong pohon ambruk di jalur pendakian dengan gergaji mesin, kemarin (15/1) (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Dampak hujan disertai angin kencang yang melanda Kabupaten Boyolali tak hanya dirasakan warga yang tinggal di kawasan permukiman. Kawasan Gunung Merbabu juga ikut terimbas. Sepanjang Januari ini, ada sejumlah pohon pinus ambruk dan menutupi jalur pendakian.

Sebagai langkah antisipasi, Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) Resort Selo sudah melalukan proses evakuasi batang pohon yang ambruk. Bersamaan dengan giat perbaikan jalur pendakian yang rusak.

“Pohon pinus yang ambruk menutup jalur pendakian Merbabu via Selo. Batang kayu yang melintang sudah kami bersihkan atau singkirkan. Dengan cara dipotong untuk memudahkan pembersihan,” kata petugas BTNGMb Resort Selo Sukimin, kemarin (15/1).

Batang pohon pinus yang sudah dipotong tidak dibawa turun. Potongan-potongan besar dimanfaatkan sebagai tempat duduk. Diletakkan di sisi kanan dan kiri jalur pendakian.

“Nantinya pendaki yang kecapekan saat perjalanan ke Merbabu bisa istirahat di bangku-bangku itu. Daripada dibawa turun, menguras tenaga. Lebih baik dibuat tempat duduk,” ujarnya.

Pembersihan jalur ini dilakukan jelang dibukanya lagi jalur pendakian Merbabu yang sempat ditutup. Namun, Sukimin belum mengetahui kapan pastinya jalur pendakian kembali dibuka.

“Merbabu masih dalam masa restorasi. Pascakebakaran hutan beberapa waktu lalu, banyak tanaman mati. Begitu juga ekosistem yang ada di dalamnya turut terganggu,” paparnya.

Kasubbag TU BTNGMb Johan Setyawan menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan 650-an hektare lahan. Dari total lahan seluas 5.800 hektare. Kebarakan merambah zona tradisional yang berbatasan dengan kawasan desa, zona rehabilitasi, zona rimba, dan zona inti. Zona inti atau kawasan puncak Merbabu terdampak paling parah.

“Jika dilihat dari atas (citra satelit), kawasan puncak Merbabu menghitam. Bentuknya seperti topi. Jadi di puncak sudah habis semua. Sabana, bunga edelweis, serta tanaman kerdil lainnya yang dilindungi sudah hangus terbakar,” terangnya. 

Johan juga belum bisa memastikan kapan jalur pendakian kembali dibuka. “Masih rehabilitasi hutan yang terbakar. Supaya vegatasi tanaman rerumputan biar tumbuh dulu. Tanaman yang hangus dan mau tumbuh lagi bisa rusak kalau terinjak-injak pendaki,” tandasnya. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia