Kamis, 20 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Bawaslu Sukoharjo Endus Acara Kedinasan Disisipi Sosialisasi Politik

17 Januari 2020, 08: 25: 59 WIB | editor : Perdana

Rochmat Basuki, komisioner Bawaslu Sukoharjo

Rochmat Basuki, komisioner Bawaslu Sukoharjo (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Jelang pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun ini, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) melakukan pemetaan kerawanan pelanggaran. Di antaranya terkait netralitas aparatur sipil negara (ASN).

"Berdasarkan Pilpres dan Pileg 2019, kami bisa melihat titik rawan mana saja di Sukoharjo. Seperti masalah daftar pemilih tetap (DPT) dan rekapitulasi penghitungan suara. Itu masih kami antisipasi dalam Pilkada 2020," terang Koordinator Divisi Penindakan Pelanggaran Bawaslu Sukoharjo Rochmat Basuki di sela launching buku Risalah Demokrasi Bawaslu Sukoharjo, Kamis (16/1).

Terkait netralitas ASN, imbuhnya, menjadi fenomena dan juga terjadi di kabupaten/kota lainnya. Namun, selama tahapan pilkada belum dimulai, Bawaslu belum memiliki kewenangan melakukan penindakan.

Rochmat tidak memungkiri banyak reklame maupun acara kedinasan yang digunakan untuk sosialisasi politik. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Bawaslu Provinsi Jawa Tengah guna menentukan langkah yang harus ditempuh, mengingat tahapan pilkada belum dimulai.

"Kami masih menunggu instruksi dari (Bawaslu) provinsi. Mengingat belum ada regulasi yang jelas jika mau menindak," ungkap dia.

Kerawanan lain yang diantisipasi Bawaslu Sukoharjo adalah potensi politik uang dan manipulasi dukungan bagi calon independen. Mengingat syarat dukungan harus dibuktikan salah satunya dengan menyerahkan foto kopi KTP pendukung sebanyak 50.216. 

Sementara itu, Komisioner Bawaslu Provinsi Jawa Tengah Mohammad Rofiudin mengatakan, Bawaslu harus menindak tegas jika ditemukan pelanggaran pilkada.

Diberitakan sebelumnya, salah seorang bakal calon bupati Joko Santosa mengakui adanya pemasangan spanduk dan baliho bergambar dirinya di sejumlah titik.

"Iya memang ada tim saya yang memasang. Tapi kebanyakan relawan yang memasang. Berapa jumlahnya, saya juga nggak tahu. Karena mereka minta foto untuk dicetak dan dipasang sendiri,” jelas politisi Partai Gerindra yang akrab disapa Joko Paloma.

Tak hanya Joko, baliho dan spanduk bergambar pasangan bakal calon dari PDIP, Etik-Agus (EA) juga terlihat di sejumlah lokasi. Bakal calon wakil bupati Agus Santosa menyatakan, pemasangan spanduk dan baliho dilakukan oleh relawan EA. Terkait jumlah spanduk dan baliho yang terpasang, Agus mengaku tidak mengetahuinya. (rgl/wa/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia