Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Features

Menyusuri Terowongan 100 Tahun Peninggalan Belanda di Cokro Kembang-1

Bagian Sejarah Pabrik Gula Cokro Tulung

17 Januari 2020, 06: 45: 59 WIB | editor : Perdana

Lubang yang digali warga untuk mengakses ke terowongan di halaman rumah Danang

Lubang yang digali warga untuk mengakses ke terowongan di halaman rumah Danang (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Keberadaan terowongan tepat di bawah rumah warga Cokro Kembang, Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Klaten menyita perhatian. Lokasi ini disebut bagian dari sejarah berdirinya Pabrik Gula (PG) Cokro Tulung pada 1840. Jawa Pos Radar Solo kemarin menyusuri terowongan yang sudah digali hampir 100 meter itu. Seperti apa kondisi di dalamnya?

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

HALAMAN rumah milik Danang Heri Subiantoro, 53, di Cokro Kembang RT 17 RW 5, Desa Daleman, Kecamatan Tulung ini terdapat lubang menganga bekas digali. Berukuran 5x4 meter dengan kedalaman enam meter. Terdapat dua anak tangga yang bisa dimanfaatkan untuk menuruni menuju terowongan yang dibangun pada abad 18. 

Kondisi terowongan pertama kali usai menuruni lubang yang digali warga di kedalaman 6 meter

Kondisi terowongan pertama kali usai menuruni lubang yang digali warga di kedalaman 6 meter (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Memang lubang menganga itu merupakan bekas galian warga setempat sebagai salah satu akses masuk menuju terowongan. Selama 1,5 bulan terakhir ini, setiap minggu dilakukan gotong-royong. Terutama menggali endapan lumpur yang menutupi terowongan ratusan tahun lamanya.

Semasa Danang masih kecil hingga remaja sekitar era 1990-an dia sering menggunakan terowongan itu sebagai arena bermain bersama teman-teman sebayanya. Tetapi saat itu mulut gua yang menghadap Sungai Pusur hanya selebar setengah meter saja sehingga harus merangkak untuk dapat masuknya.

“Dulu terowongan itu sering kali sebagai arena bermain karena seluruh aktivitas warga dipusatkan di sungai. Tetapi sudah 30 tahun lamanya tidak lagi ke terowongan. Hingga akhirnya pada 1 Desember lalu, endapan digali dengan peralatan seadanya oleh warga sampai saat ini,” jelas Danang saat ditemui di kediamannya, Kamis (16/1).

Dalam perjalanannya, Danang bersama warga lainnya membuat akses baru menuju terowongan tersebut. Kebetulan berada di halaman rumahnya dengan menggali kedalaman sekitar enam meter. Sebelum Jawa Pos Radar Solo menuruni akses tersebut, tiga blower dengan kekuatan masing-masing 1.500 watt dan tujuh lampu di sepanjang terowongan dihidupkan.

Jawa Pos Radar Solo didampingi oleh Danang dan tokoh pemuda desa setempat yakni Suryanto, 42, yang selama ini giat menggali dan menyusuri terowongan. Blower memang sengaja dihidupkan agar saat sampai di dasar terowongan agar tetap ada oksigen sehingga dipastikan aman. Ketika sampai di dasar kaki langsung menginjakkan lumpur hingga bebatuan.

“Dahulu ketika menggali sedimentasi yang menutupi terowongan dimulai dari bagian mulut sejauh 17 meter dengan lebar dan tinggi sekitar 2,5 meter. Begitu juga dilanjutkan sepanjang 28 meter dengan ukuran hampir sama. Memiliki ketebalan dan diameter konstruksi sekitar satu meter berupa batu bata. Tetapi di atasnya masih ada lapisan lainnya seperti pasir hingga batu,” jelas Danang.

Dinding berupa batu itu sangat lembab karena basah akibat resapan air dari atas permukaan. Pada beberapa bagian terowongan harus ditempuh dengan merangkak karena ketinggian hanya sekitar satu meter. Mengingat proses penggalian oleh juga masih berlangsung oleh warga di dalam terowongan.

Secara keseluruhan sebenarnya terowongan memiliki tiga cabang, tetapi yang digali oleh warga baru satu cabang utama. Sedangkan dua cabang lainnya masih tertutup dinding serta endapan lumpur yang belum digali. Salah satu cabang terdapat celah kecil. Saat dilihat dengan bantuan penerangan senter ditemukan banyak kelelawar yang bersarang di dalamnya.

“Kami menyakini jika terowongan cabang lainnya itu tersambung hingga ke Pabrik Gula (PG) Gula Cokro dahulunya sejauh 500 meter. Memang saat ini keberadaannya sudah tidak ada karena hancur saat penjajahan Jepang 1942. Saat ini di lokasi bekas pabrik itu didirikan pasar tradisional yakni Pasar Cokro Kembang,” ujarnya. (bersambung/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia