Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Klaten

Kesaksian Pengikut Keraton Agung Sejagat, Teperdaya Kata-Kata "Raja"

18 Januari 2020, 06: 45: 59 WIB | editor : Perdana

Kartu identitas ditemukan di mobil yang terparkir di sanggar sekaligus Keraton Agung Sejagat Cabang Klaten

Kartu identitas ditemukan di mobil yang terparkir di sanggar sekaligus Keraton Agung Sejagat Cabang Klaten (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Polres Klaten telah menggali keterangan tiga pengikut Keraton Agung Sejagat yang berpusat di Kabupaten Purworejo, Kamis (17/1) lalu di Polsek Prambanan. Salah satunya adalah Wiwik Untari, 40, warga Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan yang menjabat sebagai maha menteri. Mereka dimintai keterangan selama delapan jam, mulai pukul 12.00 - pukul 20.00.

“Di Klaten ini hanya sekadar pengikut saja. Mereka membayar sendiri untuk membeli seragam. Termasuk tiga kartu tanda anggota untuk setiap orang. Begitu juga iuran pembangunan yang dianggap keraton di Purworejo,” jelas Kapolres Klaten AKBP Wiyono Eko Prasetyo, Jumat (17/1).

Wiyono menjelaskan, berdasarkan pendataan yang dilakukan, pengikut Keraton Agung Sejagat tersebar di tiga kecamatan. Meliputi Kecamatan Prambanan terdapat 21 orang, Kecamatan Jogonalan lima orang, dan Kecamatan Wedi dua orang. Meski begitu, pendataan terhadap pengikut keraton masih terus dilakukan hingga saat ini.

Pengikut Keraton Agung Sejagat Cabang Klaten diminta keterangan Polsek Prambanan.

Pengikut Keraton Agung Sejagat Cabang Klaten diminta keterangan Polsek Prambanan. (POLSEK PRAMBANAN FOR RADAR SOLO)

Tiga pengikut keraton itu tidak ditahan, hanya sebatas klarifikasi saja. Dasar meminta keterangan pada tiga pengikut itu hasil pengembangan dari Polda Jawa Tengah atas kasus Toto Santoso dan Kanjeng Ratu Dyah Gitarja alias Fanni Aminadia yang telah ditetapkan tersangka.

“Kami sempat mengecek tempat yang dijadikan perkumpulan karena memang tidak ada keraton. Termasuk seragam yang digunakan para pengikut selama ini. Selanjutnya kami masuk menunggu petunjuk dari polda,” ucapnya.

Dia pun telah mengimbau kepada para pengikut yang tersebar di tiga kecamatan itu agar tidak terjerumus pada kegiatan keraton abal-abal itu. Sebab, mereka merupakan korban penipuan.

Sementara itu, Dandim 0723/Klaten Letkol Kav Minarso yang juga ikut serta dalam penggalian keterangan pengikut mengatakan, para pengikut ini merasa luluh setelah bertatap muka dengan Toto Santoso.

“Mereka merasakan seperti ada ketenangan pada awalnya. Ternyata di balik itu semua mereka dibebani untuk membeli seragam seharga Rp 2 juta. Sepertinya rajanya meraup keuntungan karena harga seragam itu hanya Rp 1 juta saja,” jelasnya.

Dari keterangan para pengikut itu pula terdapat sejumlah jabatan dalam struktur Keraton Agung Sejagat. Mulai dari jenderal, letjen hingga maha menteri dengan latar belakang pekerjaan dari petani hingga ibu rumah tangga. Dia melihat pendidikan para pengikut ini dirasa masih kurang dan tertutup.

“Setelah kami jelaskan mereka baru merasa tertipu terkait keberadaan kerajaan itu. Mereka yang terlibat dengan kerajaan itu setelah tahu raja dan ratunya ditangkap juga merasa malu. Maka ke depannya akan kami lakukan pendekatan secara personal daripada diumumkan ramai-ramai karena bisa berdampak pada psikologis,” jelasnya. (ren/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia