Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Features

Menyusuri Terowongan Peninggalan Belanda di Cakra Kembang-2/Habis

Mengarah ke Sungai Pusur, Jadi Tujuan Wisata

18 Januari 2020, 09: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Danang dan Suryanto menunjukkan mulut terowongan yang mengarah ke Sungai Pusur

Danang dan Suryanto menunjukkan mulut terowongan yang mengarah ke Sungai Pusur (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Penggalian terhadap terowongan terus dilakukan warga Cokro Kembang, Desa Daleman, Kecamatan Tulung. Setiap pekan mereka gotong-royong. Warga ingin menjadikan lokasi itu menjadi destinasi wisata sejarah tahun ini. 

ANGGA PURENDA, Solo, Radar Solo

PERJALANAN Jawa Pos Radar Solo menyusuri terowongan sempat berhenti di antara persimpangan cabang. Setelah itu dilanjutkan menuju ke mulut terowongan yang ujungnya mengarah ke Sungai Pusur. Selama perjalanan tidak harus merunduk lagi karena lorong terowongan yang dilintasi cukup lega. 

Memang perjalanan dari persimpangan cabang hingga menuju mulut terowongan memiliki ketinggian dan lebar sekitar 2,5 meter. Tetapi karakter lembab dengan dinding terowongan basah begitu tampak. Setelah menempuh puluhan meter akhirnya sampai di mulut terowongan dengan pencahayaan sinar matahari begitu terang.

Melangkahkan kaki beberapa meter langsung bertemu Sungai Pusur dengan aliran airnya cukup deras. Mulut terowongan memang tepat berada di pinggir sungai yang dulu digunakan Danang Heri Subiantoro, 53, dan Suryanto masuk dan bermain di dalamnya semasa kecil hingga remaja. Tetapi saat itu keduanya belum menyadari jika terowongan memiliki panjang 100 meter karena masih tertutup endapan lumpur.

“Dari sini kami ingin mengembangkan terowongan ini menjadi destinasi wisata sejarah yang dikelola warga secara swadaya. Apalagi sejarahnya cukup kuat. Karena dulu di Cokro Kembang pernah berdiri Pabrik Gula (PG) Tjokro Toeloong. Tapi penggalian akan kita selesaikan dulu dan memastikan aman jika nantinya dikunjungi para wisatawan,” jelas Danang.

Rumah yang halamannya digali untuk menjadi akses masuk ke terowongan juga akan dioptimalkan menjadi etalase. Nanti akan ditampilkan berbagai foto bangunan pabrik gula zaman Belanda itu hingga proses penemuan oleh warga. 

Pengemasan paket wisata itu bisa juga dipadukan dengan kegiatan river tubing dengan menyusuri Sungai Pusur. Jika selama ini warga sekitar hanya menjadi penonton saja dengan kegiatan wisata air, maka ke depan akan dikelola sendiri. Dia yakin tawaran paket wisata itu akan menarik minat wisatawan untuk berkunjung.

“Sementara ini kami sudah memiliki nama untuk wisata terowongan ini de suikerfabriek PG Tjokro Toeloong. Kita ambilkan dari Bahasa Belanda untuk merujuk pada terowongan terowongan pabrik gula ini. Tetapi saat ini kita berpikir untuk tiket masuknya karena penggalian terus kita lakukan,” jelas Danang.

Ketika sampai di mulut terowongan itu, Jawa Pos Radar Solo ditunjukkan sebuah bangunan benteng yang tidak utuh lagi. Keberadaannya tepat di atas terowongan, tetapi diyakini bangunan benteng itu memiliki panjang sekitar 1 kilometer mengelilingi dusun setempat. Diduga itu juga bagian dari pabrik gula zaman Belanda tersebut.

Jawa Pos Radar Solo pun diajak menyusuri pinggiran Sungai Pusur untuk melihat sisa-sisa bangunan benteng. Menariknya, tepat di atas bangunan benteng yang kokoh tersebut berdiri rumah-rumah warga. Hingga akhirnya sampai di lahan tepat di pinggir sungai yang nanti akan dikembangkan jadi pusat ekonomi kerakyatan untuk berjualan para pelaku UKM desa setempat.

“Sekali lagi apa yang kita lakukan sampai saat ini murni untuk mendongkrak perputaran ekonomi di desa kami. Tetapi perlu didiskusikan bersama warga terlebih dahulu untuk pengelolaan ke depan. Mengingat terowongan ini melintasi beberapa rumah warga,” ucapnya.

Perjalanan Jawa Pos Radar Solo berakhir dengan menaiki anak tangga yang dibangun secara swadaya oleh warga setempat. Perjalanan selama 15 menit di dalam terowongan itu tanpa mengetahui arah membawa ke sudut permukiman warga lainnya. Hingga akhirnya kembali berjalan kaki untuk menuju titik awal masuk ke terowongan di halaman rumah Danang. (*/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia