Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Luas Lahan Serap Air Kian Sempit

19 Januari 2020, 07: 05: 59 WIB | editor : Perdana

TAMAN BETON: Lahan di Kota Solo yang semakin dipadati beragam jenis bangunan. Kondisi tersebut harus diimbangi dengan pelestarian lingkungan.  

TAMAN BETON: Lahan di Kota Solo yang semakin dipadati beragam jenis bangunan. Kondisi tersebut harus diimbangi dengan pelestarian lingkungan.   (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Pembangunan Kota Solo cukup pesat. Hotel-hotel bertingkat bermunculan. Enggan kalah penambahan sarana prasarana infrastruktur. Di lain sisi, hal tersebut berimbas pada lingkungan. Di antaranya, berkurangnya luas permukaan tanah untuk menangkap air.

DINAS Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta mengimbau masyarakat agar melakukan panen air hujan. Mengingat ketersediaan sumber air di Kota Solo mulai menipis.

Kepala DLH Kota Surakarta Gatot Sutanto menyebut, tanda-tanda berkurangnya sumber air adalah menyusutnya stok air sumur dalam yang dimiliki perusahaan daerah air minum (PDAM). Fakta tersebut mengharuskan pemkot dan masyarakat untuk instropeksi.

“Semakin lama luas permukaan tanah di Kota Solo yang dapat menangkap air semakin sedikit. Air hujan yang turun tidak masuk ke tanah karena tertutup bangunan maupun aspal,” katanya.

Konsep memanen air hujan dianggap paling logis mengingat intensitas hujan di Kota Bengawan relatif rendah, sedangkan kebutuhan air bersih terus meningkat. 

Memanen air hujan, lanjut Gatot, dapat dilakukan dengan cara sederhana. “Tampung air hujan ke bak air atau penampungan, kalau tidak muat masukkan ke tanah. Jika sudah berlebih baru dialirkan ke drainase,” terangnya.

Langkah itu, dinilai merupakan cara termudah melestarikan sumber daya air di Kota Solo. Khusus untuk mereka yang tinggal di dekat aliran sungai, DLH memberi catatan khusus. “Biasanya kalau dekat sungai, air tanahnya jadi tercemar. Tapi kalau masyarakat di sekitarnya rajin menangkap air hujan, bisa jadi dominasi kandungannya berbalik,” ungkap dia.

Sementara itu, DLH terus melakukan pemetaan ketersediaan air tanah. Termasuk riset internal mengenai kualitas air, pengawasan penggunaan air sumur dalam, pengecekan di sejumlah perusahaan, dan sebagainya.

Di lain sisi, masyarakat bisa sedikit lega karena sekitar 25 persen wilayah Kota Bengawan memiliki muka air tanah cukup dangkal. Artinya, kota kelahiran Presiden Joko Widodo ini berpotensi besar terhindari dari bencana alam akibat pergeseran tanah.

Akademisi Universitas Sebelas Maret Yusep Muslih Purwana mengatakan, kedalaman elevasi muka air tanah wilayah Solo terbagi dalam tiga kategori, yakni cukup dangkal, sedang dan cukup dalam. 

Di wilayah bagian barat membentang sampai selatan memiliki kedalaman kurang dari tiga meter. Guru Besar Teknik Sipil itu juga melihat Solo wilayah timur ke selatan memiliki kedalaman muka air tanah sedang, sedangkan wilayah Solo bagian timur-utara memiliki muka tanah cukup dalam.

“Informasi mengenai karakteristik lapisan tanah Kota Solo menjadi penting. Terutama tentang kedalaman muka air tanah. Bisa digunakan untuk patokan membuat fondasi bangunan, bisa juga dipakai mengetahui bagaimana sifat tanah di suatu wilayah,” beber dia.

Dalam satu risetnya, Yusep menyebut Kota Solo aman dari likuifaksi akibat gempa maupun tanah jenuh. Analisis tersebut diukur menggunakan standard penetration test (SPT). “Namun demikian, ini masih perlu dipelajari lebih dalam,” ucapnya.

Proses likuifaksi, imbuh Yusep, diawali dengan gempa. Itu menyebabkan tanah kehilangan kekuatannya, sehingga berperilaku seperti air atau liquid. Dampaknya, bangunan yang ditopang lapisan tanah yang mengalami likuifaksi akan tenggelam. “Solo nampaknya termasuk yang tidak mudah tenggelam,” kata dia.

Beberapa faktor terjadinya likuifaksi antara lain, lapisan tanah jenuh air di dekat permukaan tanah, terjadi pada tanah pasir halus dengan kepadatan rendah dan beban gempa relatif besar. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia