Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Features

Mengenal Noer Nugrohowati Pegawai Dinsos Wonogiri yang Kerap Urus ODGJ

Mata Kena Tonjok, Tetap Tulus Merawat

19 Januari 2020, 10: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Mengenal Noer Nugrohowati, Kasi Rehabilitasi Dinsos Wonogiri yang Kerap Urus Orang Gangguan Jiwa

Mengenal Noer Nugrohowati, Kasi Rehabilitasi Dinsos Wonogiri yang Kerap Urus Orang Gangguan Jiwa

Share this      

Berinteraksi bersama orang dengan gangguan jiwa, mungkin banyak yang enggan. Namun, di mata Noer Nugrohowati, mereka harus tetap diperlakukan secara layak. Banyak pengalaman pahit maupun mengharukan dirasakan kasi rehabilitasi Dinas Sosial (Dinsos) Wonogiri ini selama merawat penderita gangguan psikotik.

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo 

SENYUM Noer merekah menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Solo. Rambutnya yang mulai memutih tidak mengurangi semangatnya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai abdi negara. 

Selama mengabdi di Dinsos Wonogiri, penggemar menu bakmi ini banyak bersinggungan dengan penderita gangguan psikotik. Itu membuat Noer semakin bisa memahami kondisi mereka.

Bukan hanya berdialog, Noer tak segan memandikan orang dengan gangguan jiwa yang terjaring razia kemudian dititipkan di dinsos. “Kita harus merawat mereka seperti halnya kita merawat diri kita sendiri. Perlakukan sebaik-baiknya," katanya.

Aktivitas tersebut dilakukan Noer dengan sepenuh hati. Dia menilai, orang dengan gangguan psikotik memiliki hak tak jauh berbeda dengan warga lainnya. Tapi memang dibutuhkan kesabaran dalam menanganinya. 

Sebab tak jarang ada yang mengamuk ketika dimandikan. Bahkan, mata sebelah kanan Noer sempat kena tonjok. Rekan kerja lainnya segera memberikan pertolongan dan menenangkan orang dengan gangguan psikotik.

Pengalaman pahit itu terjadi sekitar 2004. Menyebabkan mata kanan perempuan hobi menyanyi ini mengalami pendaharan. Meskipun telah diobati, beberapa kali Noer masih merasakan pusing di kepala bagian kanan. Pernah pula dia dilempar kursi. Untung tidak membuatnya cedera.

Namun Noer tak marah atau malah menyimpan dendam. Dia paham, bahwa pukulan dan serangan tersebut di luar kesadaran si penderita. Kebahagiaan dirasakannya saat penderita gangguan jiwa mudah diatur ketika dimandikan. Seperti bersedia diminta menggosokkan sabun ke badan. 

Pengalaman lain yang tak pernah dilupakan Noer adalah ketika penderita gangguan jiwa memanggil layaknya ibu mereka. “Ada yang pernah panggil saya mak…mak…mak begitu,” kenangnya.

Selain memandikan, Noer juga menyuapi penderita gangguan psikotik yang enggan makan. Menjadi kepuasan ketika mereka bersedia menyantap menu dengan lahap. 

Dari pengalamannya itu, Noer mengimbau masyarakat tidak semena-mena memperlakukan orang dengan gangguan jiwa. “Yang mereka butuhkan itu perawatan yang tepat, pengobatan. Kemudian juga kasih sayang dari keluarga. Butuh dukungan dari keluarga terdekat. Lingkungan juga jangan memberikan stigma,” pungkasnya. (*)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia