Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Travelling

Menyusuri Candi Plaosan, Situs Sejarah Terpopuler di Indonesia

19 Januari 2020, 13: 50: 59 WIB | editor : Perdana

Menyusuri Candi Plaosan, Situs Sejarah Terpopuler di Indonesia

Candi Plaosan dinobatkan sebagai situs sejarah terpopuler kedua di Indonesia pada ajang penghargaan Anugerah Pesona Indonesia (API) November 2019. Jawa Pos Radar Solo penasaran menyusuri candi ini dari dekat.

CANDI Plaosan berada di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Candi Plaosan merupakan perpaduan antara candi Budha dan Hindu. Per 1 Januari 2020, wisatawan sudah dikenai tarif masuk sebesar Rp 10.000 per orang. Meski sempat digratiskan pada Mei-Desember 2019 lalu. Usai membeli tiket masuk langsung ditemui papan informasi terkait Candi Plaosan di sisi kiri.

Kompleks candi yang di dalamnya terdapat 242 candi perwara ini berlatar belakang agama Budha. Dibangun oleh seorang putri raja bernama Pramodhawardhani atau Sri Kahulunan dari Dinasti Sailendra pada abad 9 masehi. Dia didampingi suaminya yakni Rakai Pikatan, seorang raja beragama Hindu yang membangun Candi Prambanan.

Saat menyusuri kompleks Candi Plosan akan menemukan dua candi utama yang memiliki kesamaan dalam bangunannya. Maka tak jarang Candi Plaosan disebut candi kembar. Perjalanan diawali dari bagian depan candi. Untuk menuju candi utama disambut tanaman di kanan-kiri yang cukup rapi.

Pada candi induk selatan yang pertama kali dikunjungi itu akan terlihat kemegahan dari relief hingga kemuncak candi. Terlihat jelas relief di candi induk selatan itu menggambarkan tokoh laki-laki. Lewat menaiki tangga pun bisa langsung masuk ke dalam candi untuk melihat sebuah ruangan yang ada di dalamnya.

Jika hendak mengabadikan momen dengan latarbelakang candi, harus pintar mencari angle yang tepat. Terlebih lagi jika berkunjung pada pagi hari. Karena sinar matahari yang cukup silau dari arah timur. Tetapi pada beberapa sudut candi induk selatan itu bisa dijadikan sebagai latarbelakangnya seperti dengan duduk di rerumputan di sekitar candi.

Puas mengelilingi candi induk selatan bisa dilanjutkan dengan perjalanan menuju ke candi induk utara. Pada candi di bagian utara ini tidak kalah eksotisnya dengan reliefnya yang menggambarkan tokoh-tokoh perempuan. Pada beberapa sudutnya dapat dieksplorasi hingga memasuki ruangan yang ada di dalam candi.

Memang Candi Plaosan sebagai bukti kekuatan cinta antara Pramodhawardhani dan Rakai Pikatan. Meski memiliki keyakinan yang berbeda, tetapi tidak memisahkan mereka. Namun justru saling mendukung dan menguatkan satu dengan yang lainnya. Cinta mereka tertuang dalam arsitektur Candi Plaosan. Meski candi Budha, namun kental dengan nuansa arsitektur Hindu.

Menyusuri komplek Candi Plaosan tidak hanya tertuju pada dua candi utama saja. Karena bisa dilanjutkan ke bagian utarannya. Masih terdapat beberapa candi perwara yang belum dipugar. Tetapi tetap menarik untuk dijadikan spot foto. Jika tidak membawa kamera, ada jasa yang menawarkan foto di dalam kompleks.

Jika berjalan kaki menuju ke sisi timur kompleks, kemegahan dua candi kembar terlihat dengan jelas. Apalagi beberapa spot selfie bisa ditemukan di sekitar kompleks candi. Misalnya saja di sekitar tiang yang terdapat sepeda onthelnya hingga salah satu ruas jalan yang bagian kanan dan kirinya terdapat tanaman bunga yang berwarna-warni. Termasuk lampion yang menghiasi di atasnya menyerupai seperti terowongan.

Seluruh spot selfie yang berada di Desa Wisata Bugisan itu memang bisa diakses oleh para pengunjung dengan cuma-Cuma. Lokasi ini pula lah yang sering digunakan wisatawan untuk menanti dan melihat pemandangan sunset di antara candi. (ren/adi)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia