Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Akulturasi Budaya di Grebeg Sudiro

20 Januari 2020, 07: 05: 59 WIB | editor : Perdana

BERAGAM: Grebeg Sudiro yang masuk rangkaian perayaan Imlek menampilkan beragam budaya Jawa dan Tionghoa, Minggu (19/1). 

BERAGAM: Grebeg Sudiro yang masuk rangkaian perayaan Imlek menampilkan beragam budaya Jawa dan Tionghoa, Minggu (19/1).  (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Nuansa akulturasi budaya sangat kental di event Grebek Sudiro, Minggu (19/1) siang. Kebersamaan di tengah perbedaan kian terasa saat barisan Punakawan berpadu apik dengan kelincahan Barongsai dalam rangkaian perayaan Imlek 2020 tersebut.

Pukul 12.00, para peserta kirab budaya Grebek Sudiro  mulai mempersiapkan diri untuk diarak melewati jalan-jalan di sekitar panggung utama di selatan Pasar Gede. Di tengah terik mentari yang cukup menyengat, mereka tampak betah bertahan demi lancarnya penyelenggaraan kirab budaya tersebut. 

“Kirab ini diikuti 2.000 peserta dari 62 kelompok. Terdiri dari berbagai RW di Kelurahan Sudiroprajan serta dari kelurahan-kelurahan lainnya,” kata Ketua Panitia Grebek Sudiro Arga Dwi Setyawan di sela kegiatan kemarin.

Ragam budaya yang ditampilkan berbeda-beda sesuai keunggulan wilayah masing-masing. Namun, keselarasan budaya Jawa dan Tionghoa tampak padu dalam karnaval budaya itu. Bagaimana tidak, ratusan tokoh pewayangan seperti Punokawan, Gatotkaca, Buto Birawa, dan jaran kepang tampak selaras berdampingan dengan Liong dan barongsai dalam pertunjukan itu. Bahkan, rombongan reog pun sambung menyambung dengan barisan peserta yang mengenakan kostum adat Tionghoa yang dipimpin tokoh biksu Tong Sam Cong dan para pengikutnya. 

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami (panitia, Red) berupaya untuk menyinergikan budaya Jawa dan Tionghoa serta berbagai keragaman lainnya dalam karnaval budaya ini. Harapannya kami bisa ikut memopulerkan budaya-budaya ini untuk ikut terlibat aktif dalam mengembangkan kota budaya,” papar Arga.

Ribuan warga yang hadir pun tampak betah menyaksikan para sereta karnaval. Sebanyak 4.000 buah kue keranjang yang ditata rapi dalam sejumlah jodang dibagikan pada ribuan masyarakat yang rela menunggu hingga pukul 16.30. Tidak sampai 10 menit, kue keranjang ini sudah ludes. “Penasaran makan kue keranjang,” kata Alfonsus Wiratama, warga Kelurahan Keprabon, Banjarsari.

Dalam kegiatan tahunan yang telah dihelat 13 kali itu semua sepakat bahwa giat tersebut merupakan lambang dan semangat masyarakat akan nasionalisme, pluralisme, kebhinekaan, dan integrasi sosial di Kota Bengawan. “Selain jadi satu-satunya karnaval budaya di Solo yang masuk kalender nasional, Grebek Sudiro ini mampu menjadi contoh kepedulian warga dalam merawat kebhinekaan dan kemajemukan di Kota Solo. Juga selaras dengan program 3WMP (wasis, waras, wareg, mapan, papan) yang selama ini diupayakan pemkot,” tutur Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia