Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Features
Homeschooling antara Fakta dan Realita

Tembus Kedokteran hingga Sukses Bisnis

20 Januari 2020, 07: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Tembus Kedokteran hingga Sukses Bisnis

Stigma eksklusif masih kerap disematkan masyarakat kepada anak-anak yang menempuh pendidikan homeschooling. Masih banyak yang meragukan apakah nanti mereka bisa lanjut ke pendidikan yang lebih tinggi, atau diterima di dunia kerja. Nyatanya lulusannya ternyata tidak kalah berprestasi.

KULIAH di jurusan kedokteran tentu menjadi impian banyak orang. Termasuk Zulaikha Hanif Hamdani. Bermodal ijazah paket C, dia bisa membuktikan bisa masuk jurusan yang bisa dikatakan sulit untuk dimasuki bahkan oleh lulusan sekolah formal sekalipun.

Dara 21 tahun ini mengatakan awalnya dia menempuh pendidikan formal pada 2017. Ambil jurusan IPS. Namun, karena Zulaikha anak semata wayang, kedua orang tuanya menginginkan gadis asal Pacitan ini menjadi seorang dokter.

“Orang tua saya bercita-cita anaknya jadi dokter. Sebagai pengabdian seorang anak, saya ikuti. Jadi mau tidak mau ambil jurusan  IPA. Meski sebenarnya masuk kedokteran bisa dari IPS, tapi pasti sulit, karena saya tidak punya dasarnya.  Saya lalu cari sekolah di Solo. Tapi harus mengulang dari kelas satu,” ucapnya.

Di tengah kegalauan dia, tanpa sengaja ketika melintas di daerah Pasar Nongko, dia melihat ada plakat homeschooling. Dia pun mendatangi sekolah itu. “Waktu itu ketemu dengan Kak Anna (direktur Homeschooling Kak Seto). Setelah itu saya coba masuk, kemudian saya jelaskan apa yang jadi masalah saya,” ucapnya.

Akhirnya dia mendapat pertimbangan dari HSKS, apakah benar akan mengulang kembali, karena akan memakan waktu. “setelah itu saya masuk, daftar, akhirnya alhamdulilah masuk di Homeschooling. Kemudian  saya tidak mengulang dari kelas 1, tapi langsung kelas 2, karena data dari sekolah lama sudah cukup,” ujarnya.

Kemudian dia pun menempuh pendidikan di homeschooling itu. Secara umum memang konsepnya sama, namun karena jumlah murid terbatas, dia merasa mendapat privasi. “Apalagi gurunya  ada dua, jadi lebih enak. Kakak-kakak tutornya fokus mengajari setiap murid. Jadi ilmu yang kita dapat lebih mengena, lebih intensif,” ujarnya.

Dia juga measa mendapat ilmu saling menghargai satu sama lain. Sebab, di sekolah itu juga membuka diri bagi anak berkebutuhan khusus. Jadi para siswa bisa lebih saling menghargai dan melengkapi satu sama lain di dalam kelas.

Apakah pernah mendapat pandang sebelah mata karena bersekolah di homeschooling? Zulaihka mengatakan kerap. Terutama dari teman-teman lesnya di Kota Bengawan. “Apalagi mereka berasal dari sekolah yang bisa dikatakan berlabel favorit. Ketika mereka tahu saya anak homeschooling, ya pandangannya beda saja,” ucapnya.

Anggapan itu pun dipatahkan setelah Zulaikha berhasil masuk di Jurusan Kedokteran Universitas Muhammdyah Surakarta (UMS) tahun kemarin. “Mereka juga masih tidak percaya. Dipikir anak homeschooling tidak bisa apa-apa, ternyata bisa bersaing juga dengan anak-anak sekolah umum,” ujarnya.

Hal senada juga dirasakan Mazda Radita Roromari, yang saat ini menjadi programer di Estubizi Business Center & Coworking Space, Jakarta. Pria kelahiran Solo, 22 Maret 1992 ini menceritakan awal mula memilih homeschooling karena menderita penyakit epilepsi primer.  Sekolah formal tidak bisa mengikuti ritmenya.

“Padahal keinginan saya sekolah sangat tinggi. Akhirnya saya disarankan homeschooling. Jadi saya bisa terus sekolah dan miliki waktu untuk penyembuhan juga. Dulu masuk SMA kelas XII. Terus ujian lulus dapat paket C,” ujarnya.

Selama sekolah, perbedaan yang sangat dia rasakan adalah setiap siswa memiliki tanggung jawab sendiri. Pasalnya, di sekolah untuk pelajaran primer dia hanya menemukan sekali dalam sepekan. Itupun hanya 2 jam pertemuan. “Berbeda sama sekolah umum, di mana ketemu pelajaran primer bisa tiga sampai empat kali dalam sepekan. Kalau mengandalkan sekolah tentu tidak bisa. Makanya saya belajar mandiri,” katanya.

Di samping itu, keterlibatan orang tua dalam perkembangan anak sangat dirasakan. Karena banyak sekolah yang tidak melibatkan orang tua soal kondisi anaknya selama di sekolah. “Di sini aktivitas di luar kelas guna mengenal dunia sosial juga diasah,” ungkapnya.

Setelah lulus, Mazda pun berhasil menembus Jurusan Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS). Dia merasa selain tanggung jawab, yang dia dapatkan sekolah homeschooling  adalah mental untuk percaya diri terasah. 

“Karena rasa percaya diri ini saya sekarang bisa berdiri di atas kaki saya. Karena jujur, sebelumnya tidak pernah di sekolah lain saya diajarkan pentingnya mengasah percaya diri,” urai Mazda.

Kesuksesan juga dialami Saffana Zahra. Karena bersekolah di homeschooling, dia kini bisa fokus di bidang bisnis. “Karena di homeschooling secara akademik hanya belajar pelajaran untuk ujian nasional saja ya, jadi sisa waktunya bisa untuk mengembangkan diri kita di sektor lain,” ujarnya.

Selain itu, dengan menempuh pendidikan di homeschooling bisa mengubah kepribadiannya. Sebab, sejak kecil dia memiliki kepribadian yang suka menyendiri atau introvert. Kesannya homeschooling itu pasti sekolahnya eksklusif. Padahal, setelah masuk di dalamnya tidak seperti itu.

“Kami juga bergaul. Nah, waktu sekolah itu kami juga diajarkan  untuk bersosialisasi. Minimal dengan lingkungan kelas dulu. Dari situ saya mencoba membuka diri dengan orang lain. Dan efeknya sangat bagus. Saya tidak malu lagi bergaul. Apalagi di sini jug ada anak berkebutuhan khusus, jadi bisa saling menghargai,” ujarnya.

Iniah yang saat ini masih terus dipegangnya. Di mana dia selalu menghargai para pelanggangannya. “Itu yang mungkin tidak saya dapat dari sekolah-sekolah formal yang sempat saya enyam. Rasa menghargai, itu yang penting dalam bisnis,” kata warga Wonorejo, Polokarto, Sukoharjo ini. (atn/bun

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia