Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Perusakan Hutan Lawu untuk Wisata, Penyidik Hanya Jerat Orang Lapangan

22 Januari 2020, 08: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Kapolres Karanganyar AKBP Leganek Mawardi membeber peran tersangka perusakan hutan Lawu di mapolres setempat, Selasa (21/1)

Kapolres Karanganyar AKBP Leganek Mawardi membeber peran tersangka perusakan hutan Lawu di mapolres setempat, Selasa (21/1) (RYAN AGUSTIONO/RADAR SOLO)

Share this      

KARANGANYAR – Penyelidikan kasus perusakan hutan lindung petak 45-2 RPH Tlogo lereng Gunung Lawu di Tlogodlingo, Desa Gondosuli, Tawangmangu, mulai ada kemajuan. Penyidik Polres Karanganyar menetapkan Suwarto alias Gondrong, 46, warga Tawangmangu, Karanganyar sebagai tersangka atas kasus itu. 

Kapolres Karanganyar AKBP Leganek Mawardi mengatakan, tersangka sudah diamankan di Polres Karanganyar. Suwarto merupakan koordinator pelaksana proyek. Dia yang memerintahkan anak buahnya menumbangkan pohon di kawasan hutan itu dengan alat berat. Alasan pelaku karena pohon-pohon itu dianggap membahayakan pelaksanaan pekerjaan.

“Kemarin sempat beberapa kali viral. Ada beberapa pohon tumbang dan tanah tergerus. Kemudian kami selidiki. Tiga hari kami kumpulkan bukti-bukti. Akhirnya kami tetapkan tersangka. Dia (Suwarto, Red) merupakan salah satu yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan kawasan di hutan Lawu,” ujarnya.

Setelah diinterogasi polisi, pelaku terbukti tidak memiliki surat izin menebang pohon di kawasan Perhutani setempat. Dari tangan pelaku, polisi mengamankan tiga barang bukti, yakni 18 batang kayu pinus ukuran 3-4 meter, satu unit ekskavator warna kuning, dan satu unit gergaji mesin warna ungu, serta handphone sebagai bukti untuk memviralkan kejadian tersebut.

Dari taksiran sementara, nilai kerugian mencapai Rp 1.067.000, meliputi keliling pohon pinus sekitar 116 hingga 125 centimeter. Atas pelanggaran itu, tersangka diterapkan pasal  82 ayat (1) huruf a dan b UU Nomor 18 Tahun 2013, tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusak Hutan. 

“Pelaku terancam hukuman minimal setahun dan maksimal lima tahun. Serta pidana denda paling sedikit Rp 500 juta dan paling banyak Rp 2,5 miliar,” tandasnya.

Dikatakan kapolres, memang benar surat perjanjian antara Perhutani, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), dan pihak investor berinisial WN merujuk kegiatan pemanfaatan kawasan hutan lindung tentang pengelolaan wisata di Alas Poncangan, Tlogodlingo, Gondosuli, Tawangmangu.

“Tetapi tersangka (Suwarto) sebelumnya tidak meminta izin melakukan perobohan pohon kepada Perhutani, serta tidak memberitahukan kepada pihak investor,” ucapnya.

Kronologi penangkapan bermula pada Jumat (3/1), Satreskrim Polres Karanganyar melakukan penyelidikan di tempat kejadian. “Setelah hasil penyelidikan dan bukti cukup, barulah ditingkatkan ke proses penyidikan. Dan Senin (20/1), pelaku bersama barang bukti diamankan,” ujarnya.

Sementara itu, Suwarto mengaku pelanggaran tersebut dilakukan atas inisiatif sendiri menggunakan ekskavator dan gergaji mesin untuk menebang dan merubuhkan pohon agar rata dengan tanah. Hal itu dilakukan demi keselamatan pekerjanya.

“Pekerja saya ada empat orang dan lahan tersebut sudah dikeruk seluas 1.000 meter persegi. Rencana untuk lahan parkir. Saya dibayar per harinya 150 ribu rupiah,” ujarnya.

Kuasa hukum  Suwarto, Reso Adi menambahkan, pihaknya akan memperjuangkan hak-hak kliennya dalam menjalani proses hukum. “Jangan sampai dia (Suwarto) menerima hukuman tidak masuk akal hanya karena viral. Harus berdasar hukum positif. Bukan persepsi. Kami akan melakukan upaya sebaik mungkin,” ujarnya. (rm1/bun)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia