Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Hati-Hati Diskon Olshop, Puluhan Konsumen Tertipu Promo Akhir Tahun

22 Januari 2020, 10: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Ilustrasi

Ilustrasi

Share this      

SOLO – Momentum akhir tahun dan awal tahun kerap dimanfaatkan pelaku usaha untuk menawarkan promo diskon besar-besaran. Sekilas, penawaran itu tampak menggiurkan. Namun, konsumen pun harus tetap berhati-hati. Jika tak hati-hati, justru bisa tertipu ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Terutama jika bertransaksi lewat online atau online shop (olshop)

Di awal tahun ini, kasus penipuan jual beli  online kembali merebak di Kota Bengawan. Kasat Reskrim Polresta Surakarta Kompol Arwansah mengatakan, sebenarnya kasus-kasus terkait penipuan jual beli online sudah meredup pada akhir 2019. Namun, di awal tahun ini kembali mencuat. “Rata-rata mereka bertransaksi lewat media sosial,” kata Arwansah, Selasa (21/1).

Di halaman medsos tersebut, terpampang barang-barang yang diperjualbelikan dengan harga miring alias di bawah pasaran. Hal ini dikamuflase dengan embel-embel diskon Natal dan akhir tahun. “Setelah itu mereka melakukan transaksi juga lewat direct message,” paparnya.

Setelah terjadi kesepakatan harga, korban lantas mengirimkam uang dengan cara ditransfer. Kemudian, pelaku berpura-pura mengirim resi pengiriman barang yang ternyata abal-abal. Korban baru sadar setelah barang tersebut tidak kunjung tiba. “Ketika coba dikonfirmasi, akun medsos korban sudah diblok supaya tidak bisa berkomunikasi lagi,” bebernya.

Arwansa mengatakan, dalam sepekan terakhir sudah ada puluhan korban melapor ke polisi. Rata-rata korban mengalami kerugian antara puluhan hingga ratusan ribu rupiah. “Paling banyak memang perempuan yang menjadi korban,” tuturnya.

Seiring masih banyaknya penipuan berkedok jual beli online dan menimpa korban pengguna jasa jual beli secara online, Arwansa mengimbau kepada masyarakat yang melakukan jual beli hendaknya melalui situs terpercaya atau menggunakan aplikasi pihak ketiga. “Jangan hanya tergiur harga yang murah,” imbaunya.

Jika telah terlanjur tertipu, korban hendaknya segera mengumpulkan bukti-bukti seperti pembayaran transfer, percakapan dan lainnya. Kemudian segera melaporkan kasus tersebut ke pihak berwajib di sekitar lokasi mereka.

Seorang korban, Rahmawati Putri, 34, tidak menyangka kalau dia akan menjadi korban jual beli online. Kejadian ini bermula saat dia melihat ada akun jual beli handphone di instagram akhir tahun lalu. “Kemudian saya coba masuk, terus saya lihat di list harga-harganya lebih murah, hampir separonya,” ujarnya.

Setelah melihat postingan foto di halaman Instagram tersebut, dia melihat ada salah satu merek handphone yang menjadi incarannya sejak dulu. Dia lantas mencoba menghubungi contact person yang tertera di akun tersebut. Kemudian didapati kalau toko tersebut berasal dari Jakarta. 

“Setelah chatting, ternyata memang mereka sedang cuci gudang akhir tahun untuk menghabiskan stok gudang. Makanya dijual murah,” kata warga Keluraham Bumi, Kecamatan Laweyan ini

Setelah berbalasan pesan, penjual ini langsung mengarahkan Rahmawati untuk mengirim uang pelunasan pembelian handphone yang menjadi incarannya. Setelah itu bukti transfer dikirim. Kemudian dia dikirimi foto resi pengiriman barang lewat salah satu jasa ekspedisi.

“Dia mengatakan barang sampai di rumah saya sekitar tiga sampai empat hari. Tapi saya tunggu sampai sepekan barangnya tidak sampai-sampai. Ketika saya konfirmasi ke penjual katanya antre di jasa ekspedisi karena akhir tahun,” ujarnya.

Dia baru sadar menjadi korban penipuan saat hendak menghubungi lagi nomor tersebut, namun sudah tidak aktif. Berulang kali kirim pesan, tapi tidak pernah terkirim. “Ternyata akun saya diblok. Waktu saya cari akun Instagramnya juga sudah hilang,” ujarnya. (atn/bun/ria)

Modus Jual Beli Online Abal-Abal:

1. Korban rata-rata tergiur promo akhir tahun via media sosial

2. Merasa tertarik, korban kirim direct message ke kontak yang tertera di akun tersebut.

3. Setelah disepakati jual beli, akhirnya korban transfer ke nomor rekening pelaku

4. Pelaku berpura-pura mengirimkan foto resi barang yang terkirim

5. Ketika dikonfirmasi, kontak korban sudah diblok oleh pelaku dan akun medsos sudah dihapus.

6. Korban rata-rata tertipu ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia