Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Klaten
Gunungkidul KLB Antraks

Waspada Antraks, Ternak di Wilayah Perbatasan Klaten Bakal Divaksinasi

22 Januari 2020, 12: 25: 59 WIB | editor : Perdana

Petugas kesehatan hewan menyemprot gusanex di Pasar Hewan Prambanan, kemarin (21/1)

Petugas kesehatan hewan menyemprot gusanex di Pasar Hewan Prambanan, kemarin (21/1) (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Kabupaten Gunungkidul ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) antraks. Kondisi tersebut jadi perhatian Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten. Saat ini, DPKPP fokus melakukan vaksinasi ternak sapi dan kambing, khususnya di kawasan perbatasan.

Dua kecamatan jadi fokus utama vaksinasi. Yakni Kecamatan Cawas dan Bayat. Mengingat dua kecamatan ini berbatasan langsung dengan Gunungkidul. “Populasi sapi di Cawas dan Bayat sekitar 10 ribu ekor. Jadi, pengadaan vaksin disesuaikan kebutuhan. Anggarannya Rp 20 juta - Rp 35 juta. Mungkin anggaran turun akhir bulan,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Peternakan DPKPP Klaten Sri Muryani Dwi Atmini, kemarin (21/1).

Biasanya, DPKPP melakukan vaksinasi di lima kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Boyolali dan Sleman. Yakni Kecamatan Manisrenggo, Jatinom, Tulung, Kemalang, dan Karangnongko. Namun, kali ini vaksinasi vokus di perbatasan Gunungkidul.

Selain itu, DPKPP juga mengumpulkan dokter hewan untuk mengantisipasi penyebaran penyakit antraks di Kota Bersinar. Agar ikut mengedukasi peternak maupun pedagang hewan. Terutama mengenal gejala antraks. Yakni sapi yang mendadak mati dengan seluruh bagian berlubang. Dari lubang keluar darah warna merah kehitam-hitaman.

“Jika peternak menemukan gejala itu, segera lapor ke petugas kami di kecamatan. Nantinya petugas akan menangani dan memastikan, apakah antraks atau bukan? Sebab harus diuji di lab dulu. Kami ingatkan, dagingnya tidak boleh dikonsumi,” tegas Muryani.

Hewan terjangkit antraks harus dibakar dalam sebuah lubang. Lalu ditabur gamping untuk menekan perkembangan spora, sebelum dikubur dengan tanah. Melalui penanganan khusus itu, penularan antraks ke manusia dapat diminimalkan.

Saat ini, DPKPP masih menunggu pengadaan vaksin dari Surabaya, Jawa Timur serta membuat surat edaran ke seluruh kecamatan terkait waspada antraks. Selanjutnya diteruskan ke seluruh desa. “Sejak 2007, sampai sekarang belum ada kasus antraks di Klaten. Kami optimalkan vaksinisasi secara rutin,” ucapnya.

Pengelola Kesehatan Ternak Besar Kecil dan Unggas (PKTBKU) DPKPP Klaten Margito menambahkan, jumlah sapi yang diperjualbelikan di Pasar Hewan Prambanan turun. Pascakasus KLB antraks di Gunungkidul. “Biasanya 200 ekor sapi, sekarang yang jual hanya 100-150 ekor saja. Penurunan ini karena sapi Gunungkidul dilarang masuk,” urainya. (ren/fer/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia