Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Features

Melihat Laboratorium Ilmu Falak dan Uji Kehalalan Sekolah Negeri

24 Januari 2020, 08: 25: 59 WIB | editor : Perdana

PENGETAHUAN: Siswa MAN 1 amati bulan lewat teropong. Foto kanan, guru pembimbing laboratorium uji kehalalan.  

PENGETAHUAN: Siswa MAN 1 amati bulan lewat teropong. Foto kanan, guru pembimbing laboratorium uji kehalalan.   (FAJAR NUR ANNISA/RADAR SOLO)

Share this      

Tidak semua sekolah negeri di Kota Bengawan memiliki laboratorium keagamaan terpadu. Terutama Laboratorium Ilmu Falak dan Uji Kehalalan. Kini kedua laboratorium itu sudah beroperasi. Tidak hanya guru dan siswa, masyarakat umum pun bisa melakukan uji laboratorium di sini. Seperti apa penggunaannya?

SEPTINA FADIA-FAJAR NUR ANNISA, Solo, Radar Solo.

LABORATORIUM Terpadu Keagamaan milik Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta ini dibangun melalui sumber dana surat berharga syariah negara. Sudah diresmikan pada 19 Desember lalu. Oleh Menteri Agama Republik Indonesia Fachrul Razi dan Kepala MAN 1 Surakarta Slamet Budiyono. 

Laboratorium tersebut untuk melengkapi pembelajaran mata pelajaran (mapel) agama. Siswa tak hanya menerima materi teori saja. Namun juga ada materi praktik. Salah satunya, ilmu fiqih dan falak.

Jawa Pos Radar Solo berkesempatan mengunjungi laboratorium tersebut. Perjalanan diawali dari laboratorium falak. Di sana ada empat teropong. Tiga teropong manual dan satu teropong digital. Teropong digital tersebut didatangkan langsung dari Amerika Serikat. Penggunaan teropong ini untuk menunjang pembelajaran.

“Laboratorium ilmu falak sudah mengamati pergerakan fase bulan dan matahari. Ke depan bisa mengamati pergerakan planet dan meteor,” beber salah seorang tim laborat, Nur Jannah kepada Jawa Pos Radar Solo.

Teropong ini juga digunakan untuk pembelajaran ilmu fiqih dalam menentukan perhitungan hari. Misalnya untuk melihat bulan awal Ramadan. Kesehariannya, teropong digunakan untuk melihat pergerakan bulan. Apakah bulannya sudah masuk tanggalnya atau belum. Ada dua kinerja dalam pembelajaran di laboratorium. Yakni perhitungan hari dan fotografi angkasa.

“Laboratorium ini tak hanya diperuntukkan bagi siswa saja. Harapannya, masyarakat umum bisa ikut belajar dan menggunakan fasilitas laboratorium tersebut. Saat terjadi peristiwa tertentu. Contohnya, gerhana,” sambung Nur Jannah.

Bergeser ke laboratorium uji kehalalan. Laboratorium ini menjadi tempat pengujian tingkat kehalalan makanan. Khususnya makanan yang dijual di sekitar sekolah. Untuk mewaspadai kandungan makanan tersebut.

Belum lama ini, pihak sekolah melakukan uji coba tes DNA babi. Tes dilakukan pada aneka makanan, kosmetik, dan obat. Sekaligus pengujian cairan air liur anjing.

“Ini dilakukan karena organ dari tubuh babi banyak dimanfaatkan. Mulai dari kaki, kulit, kaki, tulang, gajih bisa digunakan,” jelas salah seorang tim laboratorium uji kehalalan, Nurul Khasanah.

Proses pengujian masih berupa cairan. Belum sampai ke olahan babi. Nurul menyebut semakin tinggi olahan dari babi. Semakin sulit untuk diuji. Proses pengujian yang dibutuhkan sekitar 8 jam, durasi ini tergolong lama. Sudah dibuktikan dengan menguji makanan sosis dan bakso yang diambil dari jajan anak -anak di depan sekolah. 

“Sehingga untuk mengetahui ada tidaknya unsur babinya, kami bisa melihat dari tanda atau simbol yang disorot dengan sinar UV. Sehingga nanti akan muncul warna merah yang menandakan tingkat keharaman uji,” sambungnya.

Ketua Laboratorium Uji Kehalalan MAN 1 Surakarta Mudzir menambahkan, laboratorium ini masih termasuk kategori sederhana. Sehingga proses pengujian harus ditunggu dan diekstrak terlebih dahulu.

“Babi itu mau diolah seperti apa, DNA-nya akan tetap keluar. Harapannya, bagi siswa agar lebih berhati-hati dalam membeli makanan. Apalagi sebagai bahan uji praktik pembelajaran. Untuk masyarakat umum bisa membantu pedagang dalam menguji tingkat kehalalan makanan. Terlebih di Kota Solo terkenal dengan surganya kuliner,” ujarnya. (*/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia