Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Features
Keharmonisan Warga Tionghoa & Penduduk Lokal

Berbaur sejak Kerajaan Pajang, Berdampingan sampai Sekarang

25 Januari 2020, 09: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Segenap Forkopimda Kota Surakarta bersama perwakilan Perhimpunan Masyarakat Surakarta saat pembukaan Solo Imlek Festival beberapa waktu lalu

Segenap Forkopimda Kota Surakarta bersama perwakilan Perhimpunan Masyarakat Surakarta saat pembukaan Solo Imlek Festival beberapa waktu lalu (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Keberadaan warga Tionghoa di Kota Bengawan sudah ada sejak zaman dahulu dan berbaur apik dengan masyarakat serta kultural warga setempat sejak era Kerajaan Pajang hingga zaman sekarang. Perbedaan ras, suku, dan agama tidak menghalangi mereka berinteraksi hingga saat ini. 

Sejarawan Universitas Sebelas Maret Susanto mengatakan, babak warga Tionghoa sudah ada sejak zaman dahulu kala. Ketika Kasultanan Pajang yang dipimpin Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir, Red) masih eksis, orang-orang Tionghoa sudah menempati wilayah teritorial kerajaan ini. Hanya saja jumlahnya belum banyak. Peran mereka membantu menghadapi berbagai pertempuran melawan Belanda.

Masuk ke era Kerajaan Kartasura, orang Tionghoa makin banyak berdatangan dari berbagai wilayah seperti Batavia dan daerah lainnya. Pada bagian ini komunitas warga Tionghoa dipandang oleh raja telah berhasil menata perekonomian penduduk Kartasura. Sehingga saat keruntuhan Kerajaan Kartasura dan pindah ke Desa Sala, warga Tionghoa pun ikut berpindah.

“Pada bagian ini beda dengan peristiwa geger pecinan yang menghancurkan Keraton Kartasura. Jadi beda dengan tentara bayaran yang menyerbu itu. Di Kartasura sudah banyak warga Tionghoa yang hidup harmonis bersama masyarakat setempat,” papar Susanto.

Perpindahan Keraton Kartasura ke Desa Sala pada 1745 hingga berdiri Keraton Kasunanan Surakarta pada masa Paku Buwono II diikuti warga Tionghoa. Salah satu bukti berdirinya Kelenteng Tien Kok Sie pada 1748. Sejak itu kawasan sekitar kelenteng menjadi permukiman etnis Tionghoa. 

“Komposisi masyarakat di Solo dan Kartasura itu hampir mirip. Baik Jawa, Eropa, Tiongkok, maupun Arab semua hidup berdampingan,” jelasnya.

Komunitas Tionghoa berpadu apik dengan Kolonial Belanda yang lebih dulu bermukim di sekitar Benteng Vastenburg. Masa itu, benteng dipandang sebagai pusat perekonomian oleh Belanda. Sementara etnis Tionghoa mengambil posisi sebagai rekanan bangsa Eropa dalam perdagangan, politik dan lain sebagainya. Maka tak heran jika banyak bangunan milik Tionghoa tersebar di berbagai lokasi. Mulai dari pinggir jalan utama, sekitar pasar, maupun di perkampungan. 

“Yang saat ini menjadi bangunan Bank Indonesia itu pada 1821 masih jadi permukiman Tionghoa. Kemudian dibeli Belanda pada 1862 untuk dijadikan bank,” jelas dia.

Dalam pengelompokan permukiman Tionghoa di Solo, dia tak menemukan pemusatan secara khusus. Sebab itu, permukiman keturunan Tionghoa ini tidak hanya terpusat pada satu lokasi. Bahkan bisa dibilang di seluruh sudut kota. Pertama, kalangan pejabat dan pengusaha besar ada di pinggir jalan besar. Orientasi dekat dengan bangsa eropa maka bangunan rumahnya pun bergaya eropa. Kedua, kalangan pedagang. Kalangan pedagang seperti benyak ditemukan di sekitar pasar. Orientasi bangunan rumah tinggal masih menggunakan unsur tradisional bangunan Tiongkok yang dikombinasi dengan kegiatan jual-beli. 

Ketiga, kalangan masyarakat biasa. Kelompok ini berbaur dengan warga sekitar dan sangat dekat dengan pribumi setempat. Adaptasi yang dilakukan terlihat baik secara ekonomi maupun sosial kemasyarakatan. 

Misalnya dekat dengan pengusaha batik maka keturunan Tionghoa menjadi perajin batik. Kemudian yang dekat dengan kesenian punya kelompok seni seperti masyarakat Jawa. Tentu saja orientasi bangunan tradisional Jawa. “Ya masyarakat Tionghoa memang sudah berbauk dengan penduduk pribumi sejak zaman dulu. Karena tinggal dan beranak pinak dan menjadi warga negara dengan hak dan kewajiban yang sama. Maka keturunan Tionghoa sekarang 100 persen Indonesia,” terang Susanto.

Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo membenarkan bahwa keharmonisan antarwarga di Solo sangat baik. Semangat dalam menghargai kebhinekaan juga sangat luar biasa. Ini bisa dibuktikan Kota Solo aman dan nyaman untuk rumah tinggal atau kunjungan wisata. Salah satu bukti hadirnya Solo Imlek Festival sudah menasional. 

“Inilah wujud kebhinekaan di Kota Solo. Tidak hanya bagi warga keturunan Tionghoa, namun juga bisa dinikmati siapa saja. Tiap tahun juga makin meriah,” tegas Rudy.

Kapolresta Surakarta Kombes Pol Andy Rifai yang sempat menabuh genderang saat liong dan barongsai beraksi di pembukaan Solo Imlek Festival beberapa waktu lalu juga tampak sumringah ketika mendapat kesempatan tersebut. “Kami berharap kegiatan ini bisa meningkatkan kebersamaan, persatuan dan kesatuan sehingga Kota Solo aman dan damai,” kata Andy Rifai.

Komandan Kodim 0735/Surakarta Letkol Inf Wiyata Sempana Aji mengatakan, dari sisi budaya ini merupakan salah satu bentuk apresiasi kebudayaan. Toleransi yang terbangun dengan baik, kegotongroyongan antarwarga terlihat apik. Persatuan dan kesatuan bangsa menjadi makin solid. “Kita sama-sama menjaga dan memelihara keberagaman ini,” tuturnya. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia