Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Features
Lika-Liku Bisnis Barang Lawasan

Diburu Kolektor Asing, Barang Makin Langka

27 Januari 2020, 07: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Diburu Kolektor Asing, Barang Makin Langka

Kembali ke selera klasik sempat menjadi tren. Tak heran bisnis barang-barang lawasan atau antik sangat menggiurkan. Namun, tren ini kini mulai memasuki tren menurun.  

KONDISI mabel lawasan saat ini mulai menipis. Salah satunya karena banyak kolektor asal luar negeri yang memboyong furniture-furniture kampung dari berbagai daerah di Indonesia.  “Kalau pun masih ada, saat ini tinggal 5 sampai 10 persen furniture antik asli yang masih berada di tangan anak bangsa,” ungkap kolektor mebel antik Hengky Herendra.

Hengky mengatakan, porang-orang Eropa mulai berburu barang antik ke desa-desa di Pulau Jawa Sejak 1980-1990-an. “Karena waktu itu harganya masih murah. Belinya tidak hanya satu atau dua. Tapi kelasnya sudah pakai kontainer. Habis sudah mereka borong. Jadi sekarang ini yang masih ada tinggal sisa-sisanya saja,” tuturnya.

Kenapa mereka memborong barang-barang antik ini? Karena mebel-mebel kampung dari Jawa ini memiliki nilai artistik yang tinggi. Selera ini ditangkap pebisnis barang antik di Eropa dan di sana dijual dengan harga tinggi.

“Sebenarnya sangat disayangkan, tapi bagaimana lagi. Belum ada regulasi yang membatasi penjualan mebel kampung ini ke luar negeri karena masih dinggar suvenir,” ujarnya.

Barang-barang primitif yang sudah langka, bahkan hilang dari pasaran seperti pintu dan gobyok, joglo lawas. Di desa-desa sudah hampir tidak bisa ditemui lagi. Atas dasar itu, Henky terus memburu barang-barang antik untuk dikoleksi. Saat ini ada sekitar 800 mebel antik yang dia simpan di lima lokasi berbeda. Ini dilakukan semata-mata agar mebel lawasan ini tetap berada di Tanah Air. “Kalau tidak saya, yang nguri-nguri budaya siapa lagi?,” katanya.

Sekarang perkembangan zaman semakin maju. Generasi muda sekarang sudah tidak pernah lagi menjumpai barang-barang tradisional tempo dulu. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan.

“Sekarang coba anak-anak kita ditanya, bagaimana bentuknya lesung, Grobok kui bentuke piye? Apa pada tahu, sebagian besar pasti tidak. Saya sendiri masih memiliki mimpi, membuat museum khusus mebel-mebel antik dari kampung. Konsepnya nanti sekalian ada restorannya. Ini masih mencari investor yang mau dan yang mengerti barang antik,” papar Hengky.

Hengky sendiri mulai mencintai mebel lawas sejak awal 1997. Pamannya lah yang mengenalkan dengan barang-barang lawasan ini. Selain memiliki nilai seni yang tinggi, dia mengandrungi mebel primitif karena harganya yang bisa berlipat-lipat harganya. “Kalau jual beli untuk sirkulasi saja agar kita bisa punya modal untuk menyimpan barang-barang yang bagus,” katanya.

Namun ketika dia menjual barangnya tidak sembarangan. Jual beli hanya sebatas sesama kolektor. “Sekarang sebenarnya saya bisa jual ke orang luar negeri. Mereka itu asalkan suka tidak berpikir harganya berapa. Tapi yang saya pikirkan ini barang di Indonesia sudah sedikit. Nek tak dol aku entuk gentine meneh opo ora?” papar Hengky.

Apa yang membuat harga barang-barang ini selangit? Hengky mengatakan dilihat dari sisi umurnya. Semakin tua barang tersebut, akan semakin tinggi harganya di pasaran. Untuk membedakan mana barang yang sudah berusia ratusan tahun, mana yang repro hanya para penghobi barang antik yang bisa membedakan.

“Karena sudah puluhan tahun berkecimpung, jadi dengan melihat saja sudah bisa membedakan, mana benda yang umurnya tua, mana yang setengah tua, mana yang masih muda,” imbuhnya.

Tidak hanya usia saja yang membuat mebel antik memiliki harga selangit. Namun siapa pemilik aslinya itu juga mendongkrak harga. Hal tersebut diungkapkan kolektor barang antik lainnya, Herman Tandijo. “Cotohnya lemari. Lemari dari zaman Majapahit, tapi yang punya orang biasa, dibandingkan dengan lemari zaman Mataram tapi yang punya bangawasan, tentu mahal yang punya bangsawan,” katanya.

Jadi zaman itu hanya keadaan. Barang itu muncul di zaman lebih tua, tapi setiap zaman ada strata yang memengaruhi nilai level barang itu. “Itu yang sulit. Mencari nilai historis ini yang membuat harga barang ini mahal.” 

Ditambahkan Herman, dengan menyukai barang antik, maka secara tidak langsung telah mempelajari peradaban suatu era. Bagaimana adat istiadat dan kebudayaan suatu bangsa pada masanya. “Kenapa barang lawas ini masih awet sampai sekarang? Bahkan usianya sudah ratusan tahun. Karena orang dulu kalau membuat suatu barang dicari bahan yang terbaik, serta tukang yang terbagus,” ujarnya.

Kemudian tidak dibatasi dengan waktu. Jadi pembuatnya bisa mengeksplore idenya dengan lebih jernih dan teliti. Karena itu, wajar kalau harga mebel antik bisa selangit. Sebab, pembeli tidak hanya membayar bentuk fisik barangnya semata. Namun juga nilai serta filosofi yang terkandung pada barang tersebut. 

“Jadi kalau ada yang datang ke sini, kemudian ingin membeli barang antik dari saya, namun menawar di bawah harga saya beli dulu, pasti saya tolak,” ucapnya.

Pria yang sudah 19 tahun menjadi kolektor mebel primitif ini membenarkan saat ini banyak barang antik yang dijual ke luar negeri. Hal tersebut menjadi keprihatian baginya. Sebagai bentuk nasionalisme, Herman dan rekan-rekan sesama kolektor selalu membeli kembali barang yang terlanjur dibeli orang luar negeri. “Jadi di sini nanti juga diperjualbelikan, setidaknya barang masih ada di Indonesia,” ucapnya.

Ditambahkan Herman, ada standar harga terkait jual beli barang antik ini. Namun memang ada kemungkinan terjadi transaksi di luar standar. “Contohnya ada orang yang memang tidak menjual suatu barang, namun karena pembeli sudah ingin memiliki barang tersebut maka terjadi transaksi-transaksi khusus hingga harga barang itu fantastis,” katanya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia