Sabtu, 22 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Features
Lika-Liku Bisnis Barang Lawasan

Pebisnis Kian Menjamur, Berebut Pangsa Pembeli

27 Januari 2020, 08: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Pebisnis Kian Menjamur, Berebut Pangsa Pembeli

BARU setahun terakhir Handoko fokus menekuni bisnis primitifan. Awal dia bergelut di bisnis ini pun sebenarnya tidak sengaja. Salah satu rekannya menawari dia terjun bisnis barang-barang lawas ini setelah dia melihat koleksi di rumahnya. “Kebetulan rumah saya memang didominasi barang-barang lawas. Agar terlihat beda saja dengan yang lain.,” ujarnya.  

Ketika itu, dia langsung ditawari sekalian terjun bisnis barang-barang primitif ini. Meski sempat ragu, akhirnya dia mencoba memulai bisnis baru ini. “Saya diyakinkan sama dia, diajari, dibimbing hingga seperti sekarang ini,” ucapnya.

Mengawali bisnis barang-barang lawasan ini bukan perkara mudah. Termasuk risikonya bisa tertipu. Kerap dia mendapat barang ternyata repro. “Ya tidak apa-apa, tetap saya beli. Tapi saya nanti tidak beli lagi ke penjual itu. Ya seninya bisnis antikan seperti ini. Kita bisa tahu mana yang asli atau tidak ya dari pengalaman ini,” ujar Handoko.

Risiko terbesar tertipu adalah jual beli via media sosial. Sebab, pembeli hanya bisa melihat fotonya. Tidak bisa melihat langsung barangnya. Jadi sulit membedakan barang tersebut asli atau polesan. “Karena perbedaannya sangat tipis, malah seperti kembar. Makanya harus benar-benar jeli,” urainya. 

Dari pengalaman itu, Handoko bisa membedakan, mana barang asli, mana replika, termasuk harga jual beli. “Kalau sesama pembeli belum pernah tertipu. Caranya, kalau ada yang beli, bayar DP (uang muka) dulu 50 persen. Terus nanti saya packing barangnya. Setelah dilunasi baru saya kirimi resi pengirimannya,” ujar Handoko.

Untuk hunting, Handoko lebih memilih membeli dari pengepul-pengepul barang antik di berbagai daerah. Baginya membeli di pengepul harganya tidak terlampau jauh dari harga berburu langsung  Ditambah relasi makin banyak. Biasanya dia berburu ke daerah Purwodadi, Madiun, Ponorogo, Kediri, Caruban , Tuban, dan daerah lain di Jawa Timur. 

“Harganya bervariasi. Pernah kursi lengek saya laku Rp 45 juta. Pembeli dari berbagai daerah di Jawa, Madura dan Bali,” ujarnya.

Tak hanya pemain baru, Anto, yang sudah 15 tahun bisnis di mebel lawasan juga merasakan hal serupa. Susahnya mencari barang asli menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini diperparah sejak setengah tahun terakhir kondisi jual beli barang  sepi peminat. 

“Selain langka peminatnya juga menurun. Karena ini kan bukan barang pokok. 

Kalau tidak benar-benar hobi mana mungkin rela mengeluarkan uang untuk beli. Malah sekarang penjual lebih banyak dari pembelinya,” ujarnya. 

Anto sendiri memulai bisnis ini karena meneruskan bisnis orang tuanya. Pria ini mengatakan, sang ayah sudah memulai bisnis ini sejak 1960. “Tapi belum bisnis antik, baru barang bekas. Barang antik baru ramai pasarnya 2000-an. Saya dan kakak-kakak saya yang meneruskan usaha orang tua ini,” paparnya.

Untuk barang anti asli, dia menjual paling mahal Rp 25 juta, sedangkan barang repro maksimal Rp 2-5 juta. “Kalau asli harus untung separo dari harga beli. Kalau di bawahnya rugi. Kalau repro untung Rp 500 ribu tidak masalah,” katanya.

Tertipu pembeli bukan hal baru dialami Anto. Biasanya pembeli baru membayar 75 persen dari harga jual. Ketika barang sudah sampai, pembeli tidak melunasi kewajibannya. Itu adalah risiko. 

“Begitu juga kalau beli, ada yang bilang asli, setelah sampai ternyata repro. Ya ini jadi pengalaman bagi saya. Ini sudah biasa di bisnis barang antik. Nek ora kapusan pra nambah pintere,” kelakar Anto.

Memulai bisnis lawasan dulu, dia juga harus hunting ke sejumlah daerah untuk mengecek langsung barang yang akan dibeli. Namun dengan perkembangan teknologi, dia kini tinggal duduk manis sudah ada penjual dari daerah menawari barang. 

“Karena sudah lama (bisnis  barang antik), sudah ada kenalan setiap daerah. Kalau ada orang baru menawari, biasanya saya suruh cek dulu barangnya ke teman yang dekat lokasi. Kalau saya butuh langsung saya suruh kirim,” ujarnya.

Namun kini persaingan di pasaran makin ketat. Potensi menggiurkan di bidang ini membuat banyak orang mulai tertarik menekuni bisnis ini. Hal ini diakui pebisnis barang lawasan lainnya, Agung Setiyono. “Karena yang jual banyak, otomatis yang yang koleksi makin sedikit. Jadi sekarang susah menjual (mebel lawasan),” ungkapnya.

Namun, pria yang memiliki gudang mebel lawas di Desa Dukuh, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo ini masih optimistis kalau bisnis ini tidak akan mati. Sebab semakin bertambah tahun, maka pasti masih ada yang mencari barang-barang primitifan.

Soal harga, lanjut Agung, memang tidak ada patokan. Sebab, setiap individu memiliki pandangan sendiri-sendiri. Tinggal bagaimana nanti nego antara penjual dengan pembelinya. Bila harga dirasa cocok, dan tidak merugikan. Maka barang akan dilepas. “Yang memengaruhi (harga), pasti kondisi barang, kemudian keunikan barang, serta kesulitan mencari barnang itu,” jelas Agung.

Agung sendiri mengaku mulai menyukai barang lawasan sejak 2004. Namun baru 2006 dia terjun di bisnis ini. “Awalnya cuma lihat barang lawas di rumah teman. Kemudian mulai cari-cari juga. Setelah koleksi bertambah, mulai saya jual, ternyata laku dan untungnya tinggi. Dari situ mulai tertarik bisnis ini,” kenang Agung.

Ditambahkan Agung, daerah-daerah favorit dia berburu mabel primitifan antara lain di kawasan Jawa Timur, Purwodadi, serta daerah-daerah di kawasan sekitar Jepara. Kadang dia menuju pengepul maupun pedagang di masing-masing daerah. Bahkan langsung ke rumah pemilik barang lawas di desa-desa.

“Kalau langsung ke lokasi kita harus sabar menunggu sampai pemilik menjual barangnya. Pernah, saya tertarik sama lemari seseorang. Dia ngotot tidak mau menjual. Akhirnya dia baru melepas lemarinya setelah barter dengan sepeda motor,” ucapnya.

Disinggung soal harga, Agung mengatakan tidak ada patokan. Mengingat setiap orang memiliki selera masing-masing. Namun belasan tahun bisnis di bidang ini, barang yang paling mahal dia jual adalah lemari seharga Rp 25 juta.  (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia