Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Klaten

Ngeri, Warga Bayat Kehilangan Teras Rumah, Buka Pintu Langsung Jurang

03 Februari 2020, 08: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Warga, TNI, dan Polri melihat kondisi talut ambrol yang mengancam satu unit rumah di Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, kemarin (2/2)

Warga, TNI, dan Polri melihat kondisi talut ambrol yang mengancam satu unit rumah di Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, kemarin (2/2) (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Rumah milik Suhardi, 48, warga Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat terancam longso setelah talut sepanjang 20 meter, tepat di muka rumahnya ambrol, Jumat sore (31/1). Talut tak kuat menahan derasnya arus sungai setelah diguyur hujan.

Pemilik rumah mengaku hujan deras mengguyur sejak pukul 15.00. Sekitar pukul 17.30, korban mendengar suara gemuruh dari arah depan rumah. Saat dicek, ternyata talut pembatas rumah dengan bibir sungai ambrol.

“Air sungai sempat meluap sampai peres. Saat itu saya dengan anggota keluarga lainnya berada di dalam rumah. Saya dan tetangga lainnya mendengar suara bergemuruh. Ternyata talut sudah ambrol. Jalan depan rumah hilang. Fondasi teras juga ikut terkikis,” terang.

Demi keamanan, sementara ini korban dan anggota keluarga lainnya mengungsi ke bangunan rumah yang masih bersebelahan. Akibat kejadian itu, korban mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 70 juta. Dia khawatir jika tidak ada bantuan dan penanganan dari dari pihak terkait, longsor kian mengikis bangunan rumah ukuran 7 meter x 8 meter tersebut.

“Tadi sudah ada peninjauan dari berbagai pihak terkait. Saya harap ada perbaikan secepatnya. Sebab air sungai yang melintas di depan rumah saya ini deras sekali kalau turun hujan. Takut bangunan rumah ambrol semua,” jelasnya.

Camat Bayat Edy Purnomo menyebut peristiwa ini sudah dilaporkan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten. Terkait penanganan, sementara menggunakan bronjong kawat. “Itu sebenarnya sungai kampung setempat yang airnya berasal dari pegunungan di Gunungkidul. Kami masih menunggu material bronjong kawatnya. Soalnya tanpa itu, kami agak kesulitan menanganinya,” urainya.

Tak hanya Desa Ngerangan, talut ambrol juga terjadi di Desa Jambakan dan Dukuh. Serta banjir yang menggenangi permukiman warga di Desa Tegalrejo. Sebelum akhirnya surut kembali, malam harinya. Banjir disebabkan pohon tumbang yang menghambat aliran sungai. (ren/fer/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia