Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Travelling

Jelajahi Air Terjun Semuncar yang Masih Perawan

Rute Menantang, Terbayar Panorama Menawan

09 Februari 2020, 08: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Keindahan air terjun Semuncar

Keindahan air terjun Semuncar (RYAN AGUSTIONO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI - Ada banyak air terjun di lereng Gunung Merbabu, Ampel, Boyolali yang belum dieksplore. Salah satunya Air Terjun Semuncar. Rute ke lokasi yang sangat menantang terbayar setelah melihat pemandangan begitu menawan.

Perjalanan kami menuju Air Terjun Semuncar dimulai dari Kartasura melewati jalan Solo-Semarang. Dengan mengendarai sepeda motor, titik pemberhentian pertama di Dusun Pantaran, Desa Candisari, Kecamatan Ampel.

Kami sengaja berangkat pagi karena rute ke Semuncar cukup panjang. Tiba di basecamp river trekking air terjun Semuncar sekitar pukul 11.00. Sebelum memulai perjalanan sesungguhnya ke lokasi, di basecamp, kami diarahkan petugas pengelola air terjun. Ditawari dua pilihan perjalanan.

Jernihnya air terjun Watu Abang

Jernihnya air terjun Watu Abang

Pertama, perjalanan mandiri tanpa didampingi guide. Kedua, perjalanan dengan didampingi guide. Tarifnya Rp 100.000 untuk lima orang. Kami memilih untuk perjalanan mandiri. Berbekal peta petunjuk arah. Jadi hanya perlu mengeluarkan uang Rp 5.000 untuk parkir per motor.

Tanpa berpikir lama, kami langsung menuju air terjun Semuncar. Ternyata sudah ada petunjuk akan melewati tiga air terjun sebelum sampai Semuncar. Yaitu Tempuran, Tuk Songo, dan Watu Abang.

Baru lima menit perjalanan, kami melewati petilasan Syekh Maulana Ibrahim Maghribi. Setelah itu, perjalanan ekstrem dimulai. Diawali menyusuri jalur sungai yang mengering karena saat itu musim kemarau. Suasana terik membuat persediaan air minum kami habis. Kami berusaha mempercepat langkah agar bisa menemukan sumber mata air.

Akhirnya kami tiba di air terjun Tempuran di tingkat pertama. Di sana, kami mengisi tumbler dengan air yang mengalir melewati bebatuan. Perjalanan menuju Tempuran ini cukup melelahkan dibandingkan yang lainnya. Karena harus melewati bebatuan besar dan tanah yang tandus. Namun, lelah kami sedikit terbayar karena di sepanjang trek ada tebing-tebing besar di kanan dan kiri. Pemandangannya menemani langkah kami.

Perjalanan kami berlanjut ke air terjun selanjutnya, yaitu Tuk Songo. Tiba pukul 14.00. Meski saat itu sedang kemarau, tapi airnya cukup deras. Suara gemericik air seolah menjadi terapi alami menenangkan diri kami setelah cukup lelah perjalanan.

Tapi, ini belum separonya. Kami masih harus melewati satu air terjun lagi, yakni Watu Abang. Waktu tempuhnya sekitar 20 menit. Karena harus melewati batu-batu besar, kami harus menggunakan webbing. Aplagi harus memanjat satu per satu dengan penuh kehati-hatian. Selepas itu, trek dilanjutkan dengan menyusuri sungai yang airnya mengalir deras. Tentu harus rela basah-basahan.

Kami hampir sampai ke air terjun Semuncar. Tapi harus melewati jalur pipa dengan jalan yang sempit. Lebarnya hanya cukup untuk dua telapak kaki. Sementara di sisi kiri adalah jurang. Adrenaline kami diuji, tapi ini jadi pengalaman pertama kami trekking di jalur ekstrem.

Selama 15 menit perjalanan, akhirnya Semuncar ada di depan mata. Keindahan alamnya masih sangat alami. Belum banyak terjamah tangan manusia. Di sekelilingnya ada tebing menjulang tinggi. Dengan pepohonan yang hijau. Rasa lelah kami terobati dengan suguhan alam yang mengagumkan. Airnya dingin menusuk ke tulang. Tapi kami bersyukur bisa merasakan keindahan alam yang begitu memesona ini. (mg9/mg11/adi/ria)

(rs/adi/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia