Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Features
Mereka Yang Idamkan Rumah di Pusat Kota

Harga Melejit, Geser ke Pinggiran agar Irit

09 Februari 2020, 07: 05: 59 WIB | editor : Perdana

NYAMAN: Foto ilustrasi pekerja menyelesaikan pembangunan kawasan perumahan. Lokasi strategis di pusat kota jadi incaran.  

NYAMAN: Foto ilustrasi pekerja menyelesaikan pembangunan kawasan perumahan. Lokasi strategis di pusat kota jadi incaran.   (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Memiliki rumah pribadi tentu menjadi impian. Terutama pasangan muda yang baru menikah. Lokasi di pusat kota menjadi incaran. Dengan harapan bisa sekaligus dijadikan tempat usaha. Namun faktanya tak semudah angan-angan. 

FINA Nur Anggraini, 21, dan suaminya, Ahmad Rahim, 24, pasangan suami istri (pasutri) asal Karanggede, Boyolali ini sudah satu tahun enam bulan tinggal di pondok mertua indah. Meskipun punya lahan di desa warisan orang tua, mereka ingin punya aset di Kota Solo.

“Kalau punya rumah di Solo peluang untuk usahanya banyak. Dengan gaji suami saya sekitar Rp 1,6 juta per bulan, untuk menabung pasti butuh waktu lama. Alternatifnya pinjam di bank,” jelasnya, Sabtu (8/2).

Namun, itu belum jadi solusi jitu. Sebab pasangan muda ini harus menyisihkan uang untuk memenuhi kebutuhan buah hatinya yang baru berusia sembilan bulan. Keduanya harus bersabar menabung.

“Biaya anak Rp 600 ribu per bulan. Susah payah suami bekerja dari pagi hingga sore. Menyisihkan uang gaji Rp 200 ribu per bulan untuk menabung. Jadi sementara masih tinggal bareng orang tua dulu,” ujar dia.

Keinginan punya rumah sendiri menjadi dambaan Ivan Tri Syahputra, 26. Petugas keamanan salah satu pabrik garmen di Kabupaten Sukoharjo ini harus pintar menyisikan penghasilan.

“Saya menikah sudah setahun empat bulan. Masih tinggal di rumah warisan orang tua istri. Gaji saya Rp 2 juta jelas susah untuk menabung. Apalagi harga rumah baru sekarang mahal, bangun sendiri juga mahal. Pengennya beli rumah di dekat sekolahan biar bisa untuk jualan,” ungkap warga Dawung Kulon, Serengan, Kota Solo itu.

Hasrat memiliki rumah di Kota Solo diungkapkan pasutri Muh. Aditya Pratama, 27, dan Neni Kiswahyuningrum, 27. Alasannya sama dengan lainnya. Punya prospek untuk lokasi usaha. “Saya cek ternyata harga tanahnya sudah sangat tinggi. Di Jebres belakang kampus UNS pasarannya sudah Rp 10 juta–Rp 13 juta per meter. Itu pun yang masuk kampung. Paling kalau harus ke pinggiran cari daerah Ngringo, Karanganyar. Pokoknya cari yang aksesnya dekat Solo. Soalnya istri juga mulai bisnis fashion di Solo,” urai dia. 

Menyadari harga rumah di Kota Solo sudah selangit, pasangan Rindu Ari Astuti dan Dwi Atmono memilih beli hunian di kawasan Kadokan, Grogol, Sukoharjo. “Memang sebelum menikah sudah memikirkan bagaimana caranya punya rumah. Mumpung ada yang dekat Solo dan harganya agak miring, langsung ambil saja. Setahun lalu saya ambil masih Rp 130 juta, angsuran per bulan Rp 980 ribu,” kata Rindu.

Memilih hunian di pinggir Kota Solo diputuskan Agustinus Ari, 37 dan istri. Keduanya tinggal perumahan kawasan Purbayan, Sukoharjo sejak 2016. Rumah tersebut dibeli setelah cukup lama menabung.

“Setelah menikah kami beberapa tahun kontrak di daerah Punggawan, Banjarsari. Setelah merasa siap, akhirnya memutuskan untuk beli rumah di pinggiran,” jelas dia.

Empat tahun lalu, rumah di atas lahan seluas 100 meter persegi tersebut dibanderol Rp 270 juta. Perhitungan Ari tepat. Tak sampai setahun, kawasan yang ditempatinya bertambah ramai. Kini harga rumah dengan luas lahan sama bisa mencapai Rp 350 juta. 

Menempati kawasan pinggiran Kota Solo juga menjadi pilihan Iksan, 36, dan keluarganya. Yakni di kawasan Mojosongo. “Waktu itu (2015) untuk ukuran 60 meter persegi saya beli Rp 150 juta. Di Kota Solo dengan luas yang sama sudah Rp 200 jutaan,” jelasnya. (mg5/ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia