Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Features
Mereka Yang Idamkan Rumah Di Pusat Kota

Hunian Minimalis, Laris Manis

09 Februari 2020, 10: 50: 59 WIB | editor : Perdana

RENOVASI: Rumah subsidi di kawasan Grogol, Sukoharjo cukup banyak diminati.

RENOVASI: Rumah subsidi di kawasan Grogol, Sukoharjo cukup banyak diminati.

Share this      

SELERA sejumlah konsumen dengan budget terbatas namun ingin memiliki rumah yang nyaman, direspons pengusaha properti, yakni dengan menyediakan hunian minimalis. 

Hendy Bakrim, salah seorang marketing property menuturkan, generasi muda lebih fokus mencari hunian dengan harga terjangkau. Pertimbangannya antara lain nominal uang muka dan cicilan per bulan.

“Rata-rata gaji anak muda yang baru bekerja sekitar Rp 2,5 juta – Rp 5 juta. Kisaran rumah yang dicari dengan DP (down payment) di bawah Rp 20 juta, cicilan per bulan sekitar Rp 1 jutaan. Pertimbangan lainnya, jarak tidak terlalu jauh dengan lokasi bekerja,” ujarnya.

Seiring waktu, bagi pengusaha properti tidak mudah mendapatkan lahan untuk perumahan di pusat Kota Solo. Biasanya terbentur perizinan dan harga lahan yang kurang sesuai untuk dijual dalam bentuk perumahan dengan harga lebih terjangkau. Solusinya, menyasar kawasan pinggiran kota yang masih dekat dengan pusat perekonomian, perkantoran maupun pabrik.

Kawasan pinggiran Kota Solo yang diminati konsumen, lanjut Hendy yakni Karanganyar, Boyolali, Sukoharjo, dan Klaten. “Biasanya untuk meningkatkan minat masyarakat tersedia berbagai promo. Di antaranya DP ringan dan sebagainya,” katanya.

Terpisah Ketua Real Estate Indonesia (REI) Soloraya Anthony Hendro Prasetyo menerangkan, bisnis properti sangat bergantung pada suku bunga bank. Jika suku bunga rendah, biasanya dibarengi dengan minat masyarakat yang tumbuh pesat.

“Sepanjang 2019 dan semester pertama 2020, penjualan properti masih didominasi perumahan bersubsidi. Faktanya, bisnis perumahan ini bisa menjadi tolok ukur suatu perekonomian yang sehat karena bisnis ini juga berdampak pada beberapa bisnis lain yang terkait,” paparnya.

Lalu bagaimana jika ketersediaan lahan minim? Hendro mengatakan, bentuk bangunan property akan mengalami perubahan. Yakni dari dari rumah tapak ke bentuk vertikal seperti apartemen.

Sementara itu, sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Drajat Tri Kartono menilai, minimnya ketersediaan lahan merupakan konsekuensi dari proses berkembangnya suatu kawasan. Dari segi sosiologi perkotaan, Kota Solo berkembang menjadi pusat konsumsi kolektif. Seperti pusat pendidikan, pusat ekonomi, pusat rekreasi, dan sebagainya.

“Arah perkembangan Kota Solo ini menuju metropolis. Walau tidak persis seperti Semarang, Surabaya, dan kota lainnya. Tapi arahnya terlihat dari banyaknya pertokoan dan hotel-hotel besar di sudut kota. Mestinya akan lebih pas jika arah perkembangannya menjadi kota menengah,” urainya.

“Semua pengin di Solo. Dampaknya jelas bakal tambah padat. Tapi, pola masyarakat akan bergeser lagi. Kota yang menjadi pusat konsumsi kolektif tadi bisa membentuk kota-kota satelit yang mandiri dengan berbagai fasilitas. Seperti di Solo Baru dan Solo Utara,” imbuh Drajat.

Dia juga sepakat bentuk hunian vertikal guna menyiasati semakin menyempitnya lahan. “Tinggal bagaimana mengaturnya. Mau komersil atau merakyat dengan model rusun (rumah susun). Setelah itu, tinggal memecah central bussiness district (CBD) di beberapa titik. Dengan begitu pertumbuhan pusat ekonomi bisa lebih merata,” pungkasnya. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia