Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Features
Rumitnya Merawat Lokomotif Uap Kuno

Rutin Dicek Tiap Hari, Telat Penanganan Fatal

10 Februari 2020, 07: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Rutin Dicek Tiap Hari, Telat Penanganan Fatal

Kota Bengawan menjadi salah satu kota yang beruntung. Ada dua lokomotif uap kuno masih aktif beroperasi hingga saat ini. Yaitu kereta uap Jaladara dan terbaru Lokomotif D1410. Namun yang namanya armada lawas, perawatannya tentu butuh sentuhan khusus dan biayanya pun tidak sedikit. Seperti apa merawat kereta-kereta bersejarah ini?

 KOORDINATOR Tim Restorasi Balai Yasa Jogjakarta Suharyanto mengatakan, kereta-kereta kuno seperti ini memang butuh perhatian khusus. Salah perlakuan malah bisa mati selamanya.

“Harus cermat, kalau ada gangguan langsung dikontrol lokomotifnya. Bautnya, kalau ada yang kendor dibenahi. Pelumasan mesin rutin setiap habis berhenti agar perjalanan lancar,” ujarnya.

 Kemudian selesai beroperasi, harus dipastikan api benar-benar sudah mati agar ketelnya aman. Sebab, kontrolnya tidak kelihatan. Termasuk peti apinya, apakah ada kebocoran atau tidak. Kondisi ketel juga harus rutin dicek setiap hari.

Ditambahkan Suharyanto, apabila sampai rusak butuh waktu lama untuk memperbaiki kereta uap ini. Dia mencontohkan lokomotif uap D1410, butuh waktu delapan bulan agar kereta buatan Hanomag Hannover, Linden, Jerman 1921 ini bisa kembali melaju di atas rel.

“Kereta ini sudah lama tidak beroperasi, karena terlalu lama mangkrak di TMII. Jadi harus dibenahi total. Kendala kedua, pabrik buatannya ini sudah tutup. Otomatis onderdilnya sudah tidak ada yang jual. Namun kami tidak kehabisan akal. Kami buat onderdil pengganti yang serupa,” paparnya.

Disinggung soal biaya perawatan setiap bulan, Suharyanto menuturkan kurang tahu pasti. Yang jelas bisa menyentuh angka puluhan juta dalam sekali perawatan. Belum lagi kalau ternyata harus ada bagian yang diganti karena mengalami kerusakan.

“Yang harus menjadi catatan, sebelum dioperasikan, pemanasan mesin ini penting agar tidak macet di tengah jalan. Sebelum jalan biasanya harus dipanaskan selama empat jam,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Kepala PT KAI Daerah Operasi (Daop) VI Jogjakarta Eko Purwanto. Suku cadang lokomotif tua yang sudah lagi tidak diproduksi menjadi masalah. Solusinya dicarikan yang serupa menggunakan lokomotif uap yang lain di Balai Yasa Jogjakarta. Selain itu juga memesan suku cadang dari dalam negeri,” ujarnya.

Eko juga kurang mengetahui pasti berapa biaya yang harus digelontorkan guna merawat tiap lokomotif kuno ini. Namun untuk restorasi, sedikitnya dianggarkan Rp 1 miliar sampai 2 miliar. “Perawatan rutin harus benar-benar diperhatikan. Sebab, kereta kuno pasti pakai teknologi uap, maka boilernya, ketelnya dipastikan berfungsi dengan aman. Semua kami cek, setelah aman baru bisa beroperasi,” imbuh Eko.

Disinggung soal sumber daya manusia (SDM) yang memperbaiki maupun merawat kereta ini, Eko mengaku untuk sementara menggunakan tenaga yang sebenarnya sudah pensiun. “Statusnya diperbantukan. Sebab, angkatan mereka yang dulu menangani. Kemudian mereka juga nanti membagi ilmu kepada anggota muda,” ujarnya.

Perawatan nanti dilakukan di Stasiun Purwosari. Tapi ketika ada kerusakan berat yang tidak bisa diperbaiki maka akan dibawa ke Balai Yasa Jogjakarta. (atn/bun

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia