Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Klaten

Pemkab Klaten Serahkan Pengelolaan 40 Pasar ke Desa

10 Februari 2020, 12: 05: 59 WIB | editor : Perdana

DIHIBAHKAN: Warga beraktivitas di pintu utama Pasar Cokro Kembang yang ada di Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, kemarin (9/2).

DIHIBAHKAN: Warga beraktivitas di pintu utama Pasar Cokro Kembang yang ada di Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, kemarin (9/2). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten tahun ini menyerahkan pengelolaan 40 pasar tradisional ke pemerintah desa. Sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Dampaknya, pemkab berpotensi kehilangan pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi pasar sekitar Rp 700 juta.

Pasar tersebut di antaranya Pasar Cokro Kembang, Pasar Gentongan, Pasar Dompyongan, Pasar Hewan Wedi, dan Pasar Jatinom. Peralihan pengelolaan berlaku per 1 Januari kemarin. Kendati demikian, pemkab masih melakukan pendampingan hingga Maret.

Selanjutnya, pemerintah desa bertanggung jawab penuh terhadap seluruh aset pasar tradisional. Baik itu perbaikan maupun renovasi. Peralihan pengelolaan ini bertujuan mendongkrak pendapatan masing-masing desa.

“Saat ini masih proses penyerahan aset pasar tradisional ke desa. Butuh persetujuan DPRD,” jelas Kepala Dinas Perdagangan Koperasi (Disdagkop) UKM Klaten Bambang Sigit Sinugroho, kemarin (9/2).

Terkait pendampingan, agar pemerintah desa paham tata cara pengelolaan pasar tradisional. Mulai dari penarikan retribusi, operasional, kebersihan, hingga keamanan.“Apakah nanti pakai petugas dari desa atau masih pemkab, silakan. Biar diatur pemerintah desa masing-masing,” urainya.

Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Pasar Disdagkop UKM Klaten Didik Sudiarto menambahkan, target pendapatan dari pengelolan pasar di atas Rp 4 miliar. “Karena berpotensi hilang sekitar Rp 700 juta, target tahun ini turun jadi Rp 3,8 miliar,” bebernya.

Kepala Desa (Kades) Daleman Mursito membenarkan aset Pasar Cokro Kembang sudah diserahkan. “Ada sekitar 35 kios. Semoga bisa menambah pendapatan desa kami,” ujarnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia