Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Features
Rumitnya Merawat Lokomotif Uap Kuno

Pabrik Tutup, Suku Cadang Tak Diproduksi Lagi 

10 Februari 2020, 09: 45: 59 WIB | editor : Perdana

Pabrik Tutup, Suku Cadang Tak Diproduksi Lagi 

TIDAK adanya onderdil asli karena sudah tidak diproduksi lagi membuat suku cadang harus diproduksi sendiri. Ini membuat biaya perawatan jadi selangit. Hal ini diungkapkan pengamat kererta api Tintony Rizan Ghani.

“Selain membuat onderdil sendiri, PT KAI melakukan kanibal apabila ada kerusakan pada salah satu lokomotif lawas. Ini menyebabkan kereta yang diambil onderdilnya akan hilang entah ke mana. Ini yang terjadi pada lokomotif seri D14,” ujarnya.

Terlepas dari itu, keberadaan lokomotif uap D1410 di Solo menjadi sebuah kebanggaan. Sebab, hanya tinggal loko ini yang masih tersisa. Apalagi ini sampai bisa beroperasi. Kereta api ini merupakan lokomotif uap yang didatangkan oleh Staats Spoorwegen (SS) yang berasal dari dua pabrikan berbeda.

Untuk seri 01 sampai 12 merupakan buatan Hanomag, Hannover, Jerman. Sedangkan yang bernomor 13-24 buatan Werkspoor, Belanda. “Tahunnya pun berbeda. Yaitu buatan 1921 untuk lokomotif D14 bernomor 01-12, dan lokomotif bernomor 13-24 buatan 1922. Perbedaaan lainnya ada pada nomor asli pabrikan. Yaitu nomor 9644-9655 untuk D1401-12, dan nomor 499-510 untuk D1413-14,” urai Tintony.

Ditambahkan Tintony, desain lokomotif  D14 yang ringkas dan mesinnya yang kuat ini memang didesain untuk dioperasikan di perlintasan lokal hingga jalur pegunungan. “Kalau dulu, jalur operasionalnya Bogor-Sukabumi-Cianjur hingga Bandung. Tapi sejak 2006 jalur Bogor-Sukabumi sudah ditutup,” ujarnya.

Ditambahkan Tintony, di awal produksinya, total ada 23 lokomotif bertipe gander 2-8-2T. Sebelas unit ada di Jatinegara dan Bogor, delapan unit di Cianjur, tiga unit di Purwakarta, dan dua unit di Sidotopo.

“Tapi pada 1970, jumlah kereta semakin tahun semakin menyusut. Selain terjadi kanibal suku cadang, mulai datang satu persatu kereta api listrik (KRL). Jadi yang di Solo ini tinggal satu-satunya. Untungnya Jokowi dulu punya program melestarikan kereta lama wisata. Sehingga kereta yang awalnya jadi pajangan di TMII bisa beroperasi kembali. Jadi kita tidak hanya menonton saja, tapi bisa merasakan bagaimana naik kereta ini,” katanya.

Pada saat itu pemerintah memang belum memiliki pemikiran apabila ke depan transportasi kereta api lawas ini bisa dijadikan wisata heritage. “Jadi ketika rusak ya sudah ditinggalkan. Toh sudah ada kereta lebih canggih dan lebih cepat. Nah, sekarang baru kerepotan. Pabrik produsennya sudah tutup,”katanya.

Tintony menyarankan kereta api ini bisa dijalankan secara retail, bukan sewa per trip seperti Jaladara agar masyarakat bisa menikmati. “Terlepas dari itu, dengan beroperasinya dua kereta ini berarti pemerintah masih sangat perhatian dengan keberadaan kereta api ini,” ucapnya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia