Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Jateng

Bawang Putih Langka, Ganjar: Saatnya Bawang Jadi Komoditas Prioritas!

10 Februari 2020, 21: 55: 55 WIB | editor : Perdana

Gubernur Ganjar Pranowo menerima direktur pengembangan bisnis dan industri Bulog dalam rangka laporan pembangunan Modern Rice Miling Plant di wilayah Jateng, Senin (10/2).

Gubernur Ganjar Pranowo menerima direktur pengembangan bisnis dan industri Bulog dalam rangka laporan pembangunan Modern Rice Miling Plant di wilayah Jateng, Senin (10/2).

Share this      

SEMARANG – Pembatasan impor bawang putih dari Tiongkok akibat merebaknya virus korona berimbas pada melambungnya harga komoditas tersebut di Tanah Air. Berkaca dari kondisi ini, sudah saatnya Indonesia menggenjot pertanian bawang putih agar bisa memenuhi kebutuhan sendiri di dalam negeri.

Hal itu kini tengah jadi perhatian serius Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ganjar berharap pemerintah pusat menjadikan bawang putih sebagi komoditas prioritas. Sehingga ketika Tiongkok sebagai negara pemasok utama dilanda gejolak seperti saat ini, pasokan bawang putih di Tanah Air tidak terganggu. 

"Ini momentum buat pertanian kita, khususnya bawang. Ini harus kita manfaatkan, musibah ini (pembatasan impor imbas virus korona, Red) harus kita cari barokahnya. Barokahnya apa? kita mesti berdikari. Kalau sudah begitu, bisa kita kejar itu (peningkatan produksi bawang putih)," papar Ganjar, Senin (10/2)

Hingga saat ini, pasokan bawang putih di Tanah Air terus menurun. Akibat kelangkaan tersebut, harga komoditas pun kian melambung. Berdasarkan pantauan di sejumlah wilayah, harga bawang putih kini mencapai Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram. Ini membuktikan jika kebutuhan komoditas bawang di Indonesia masih sangat tergantung oleh impor Tiongkok.

"Maka, ini mesti digenjot jadi satu komoditas prioritas. Tinggal nyarikan bibit yang banyak, lahan, dan disiapkan offtacker yang baik," ucap Ganjar.

Jawa Tengah memiliki lahan pertanian bawang putih total seluas 2.573 hektare dengan kemampuan produksi mencapai 195.472 kg. Lahan pertanian itu tersebar di seluruh wilayah pegunungan Jawa Tengah, mulai Tawangmangu, Sindoro Sumbing, hingga Tegal.

Untuk bibit, kata Ganjar, sebenarnya telah banyak pihak yang memberikan bantuan. Bank Indonesia salah satunya. Hanya saja, untuk saat ini persoalan yang paling mendesak adalah secepatnya memenuhi kelangkaan barang. 

"Itu (penyiapan lahan pertanian dan bantuan bibit, Red) sebenarnya bagian untuk mendorong kekurangan. Cuma, ngejar waktunya (panen) tidak bisa. Maka, harus ada crash program (percepatan) untuk meningkatkan produksi," katanya.

Jika tidak ada program percepatan, Ganjar khawatir upaya penyebaran bibit bawang putih kepada para petani akan mengalami kegagalan. Alih-alih ditanam, bibit-bibit tersebut bisa jadi justru dikonsumsi.

"Kalau ini barangnya tidak cepat masuk, bibitnya nanti malah dijual dan dikonsumsi. Nah ini akan semakin memperpanjang (masalah kelangkaan) lagi," ungkap Ganjar. 

Untuk itu, gubernur berharap pemerintah pusat secepat mungkin membuka keran impor bawang putih. Jika tidak dari Tiongkok, alternatif lain bisa dikirim dari India, meski secara kualitas masih di bawah bawang putih Tiongkok. 

"Kemarin kita sudah koordinasi, saya sudah telpon menteri perdagangan dan menteri pertanian. Mudah-mudahan dari pusat bisa lebih cepat melakukan impor karena kita memang kurang. Karena kurang, maka harus dipercepat impor untuk stabilisasi harga. Sehingga inflasi bisa ditekan," pungkas Ganjar. (bay/ria)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia