Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Features

Rahardian Sena Atmaja, Olah Limbah Kayu Jadi Kerajinan Bernilai Tinggi

11 Februari 2020, 19: 22: 43 WIB | editor : Perdana

Rahardian sedang membersihkan limbah akar kayu sebelum dibuat kerajinan.

Rahardian sedang membersihkan limbah akar kayu sebelum dibuat kerajinan. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

Limbah akar pohon dan potongan kayu biasanya dibiarkan begitu saja. Namun di tangan Rahardian Sena Atmaja, barang sisa itu diubah menjadi produk bernilai tinggi dan bernilai seni. Apa yang menginspirasi dia?

TRI WIDODO, Boyolali, Radar Solo

RAHARDIAN Sena Atmaja atau sering disapa Heri ini awalnya hanya coba-coba. Dia terpantik mengolah limbah kayu yang dibiarkan begitu saja. Atau biasanya hanya dijadikan bahan bakar memasak bagi warga desa. Dalam pikirannya, kalau limbah kayu itu diolah, bakal memiliki nilai jual dan seni yang tinggi. 

 “Iseng saja, melihat banyak bongkahan kayu yang dibakar begitu saja untuk memasak dan kurang dimanfaatkan. Akhirnya saya coba mengolahnya sambil mengisi waktu luang,” ujar warga Siswodipuran, Boyolali ini.

Niatnya untuk berkarya tak semudah yang dibayangkan. Peralatan yang memadai jadi kendala utama dalam mengolah limbah kayu ini. Namun itu tak membuat dia patah arang. Dengan peralatan seadanya dia pun mengolah limbah akar kayu ini menjadi sebuah kerajinan. Beruntung, karena kerja kerasnya ini, warga setempat bersimpati dan memberikan bantuan peralatan. 

“Yang penting itu mau berusaha dulu pasti ada jalan,” kata pria yang pernah belajar di pondok pesantren (ponpes) ini.

Bagi Sena, tak ada yang sulit untuk mengolah limbah kayu ini. Hanya cukup memperhatikan tekstur kayu serta alur akarnya. Dia pun hanya mengandalkan insting untuk membuat set meja dari akar kayu ini.

“Modal yang dikeluarkan sebetulnya tidak besar karena bahan baku kayunya merupakan limbah yang dibuang. Hanya saja yang membutuhkan biaya untuk bayar upah bongkar, belah dan potong kayu,” katanya.

Dia pun tak pernah mematok harga dari hasil karya seninya ini. Terpenting hanya sesuai dengan harga pasaran. Selain itu, dia juga berharap masyarakat juga mengikuti jejaknya, yakni mau berusaha melihat peluang bisnis dari bahan lingkungan sekitar. 

“Limbah kayu kalau dibuang begitu saja sangat sayang. Padahal bisa dimanfaatkan agar memiliki nilai jual tinggi sekaligus bisa menikmati seni dari kayu,” ujarnya. (*/bun) 

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia