Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Malas Jalani Tes Psikologi, Warga Ramai-Ramai Bikin SIM Lebih Awal

11 Februari 2020, 21: 00: 33 WIB | editor : Perdana

Warga membaca pengumuman tentang penerapan tes psikologi dalam pengurusan SIM di kantor Satpas Satlantas Polresta Surakarta.

Warga membaca pengumuman tentang penerapan tes psikologi dalam pengurusan SIM di kantor Satpas Satlantas Polresta Surakarta. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Proses pengajuan surat izin mengemudi (SIM) akan lebih memakan waktu. Pasalnya, mulai 24 Februari, Korlantas Mabes Polri resmi melaksanakan tes psikologi, baik untuk pembuatan SIM baru maupun perpanjangan.

Imbas dari akan diberlakukannya kebijakan baru itu yakni masyarakat memilih untuk melakukan perpanjangan SIM lebih awal. Rupanya mereka malas jika haru melalui prosedur tes psikologi per 24 Februari. 

Seperti yang terlihat di kantor Satpas Satlantas Polresta Surakarta. Sejak awal bulan ini, permohonan pembuatan dan perpanjangan SIM cukup membeludak. Misalnya Sri Rahayu, 45, yang mengatakan sengaja mengurus SIM, Selasa (11/2) pagi. 

”Sebenarnya, masa berlaku SIM saya baru habis Rabu (26/2). Tapi dapat info kalau nanti perpanjangan harus pakai tes lagi. Ya daripada lama, lebih baik saya ajukan lebih dulu,” ujar warga Plesungan, Karanganyar ini.

Membeludaknya pengajuan SIM dibenarkan oleh Kasat Lantas Polresta Surakarta Kompol Busroni. Kenaikan jumlah pengajuan SIM meningkat 50 persen dibandingkan hari biasa. Hal ini dikarenakan masyarakat menghindari tes psikologi dalam pengajuan SIM. 

”Sebenarnya tidak ribet. Karena sebenarnya ujian ini sama dengan ujian KIR. Cuma kalau KIR adalah mengecek kesehatan fisik, kalau tes psikologis ini lebih ke mental dan emosional,” ujar Busroni.

Busroni menambahkan, langkah ini dilakukan aparat kepolisian karena penyebab utama kecelakaan bisa terjadi karena human error. “Karena merasa ingin menang sendiri, merasa paling benar di jalan, maka terjadilah kecelakaan itu. Padahal yang namanya pengendara kendaraan bermotor di jalan raya itu terkait dengan sikap, etika, norma, dan tingkah laku. Harus bisa saling menghargai kepada sesama pengguna jalan,” papar Busroni.

Lalu, kenapa perpanjangan SIM juga harus menjalani tes psikologi? Busroni mengatakan, hal ini karena emosional manusia yang selalu berkembang. ”Karena pengajuan SIM tiap 5 tahun sekali, kita tidak tahu, apakah tingkat emosi seseorang tetap atau berubah. Bisa saja dulu orangnya pendiam, sekarang temperamen,” katanya.

Apabila tidak lulus tes ini, maka pemohon harus mengulangi tahapan tes tersebut hingga dinyatakan lulus dan layak untuk lanjut ke tahap berikutnya. Soal teknis pelaksanaan, Busroni mengatakan masih menunggu petunjuk dari Korlantas Mabes Polri. (atn/ria)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia