Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Jateng

Ganjar Hadirkan Eks Napiter Bom Bali, Sebar Pesan Bahaya Radikalisme

12 Februari 2020, 15: 43: 18 WIB | editor : Perdana

Gubernur Ganjar Pranowo berbincang dengan Jack Harun, eks napiter Bom Bali 1 pada acara sarasehan Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan di SMKN 8 Surakarta.

Gubernur Ganjar Pranowo berbincang dengan Jack Harun, eks napiter Bom Bali 1 pada acara sarasehan Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan di SMKN 8 Surakarta.

Share this      

SOLO - Di hadapan ribuan orang di SMKN 8 Surakarta, pria itu dengan lugas menceritakan pengalamannya merakit bom untuk diledakkan di Bali atau yang kemudian dikenal dengan kasus Bom Bali 1. Mendengar kisah tersebut, ribuan orang yang merupakan peserta sarasehan Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan di sekolah setempat, Rabu (12/2), hanya bisa terdiam dan terbengong.

Ya, pria itu adalah Joko Triharmanto alias Jack Harun, seorang eks narapidana teroris (napiter) yang pernah bergabung dengan Noordin M. Top. Jack Harun digandeng Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk menjadi nara sumber sekaligus berbagi kisah kepada para peserta sarasehan, yang terdiri dari kepala sekolah, guru, siswa, dan kerohanian Islam (rohis) se eks Keresidenan Surakarta. Selain Jack Harun, juga ada Gus Miftah sebagai nara sumber.

Mengawali dialog sarasehan, Ganjar menyampaikan berbagai persoalan kebangsaan. Sampai akhirnya Ganjar menyinggung soal bahaya radikalisme dan terorisme. Jack Harun tampil untuk melengkapi materi tersebut.

Dia pun bercerita awal mula hingga bisa bergabung dengan jaringan Noordin M. Top. Lantas mengisahkan pengalaman saat bertugas merakit bom, salah satunya untuk aksi Bom Bali 1 pada 12 Oktober 2002 silam.

"Ketika itu, saya hanya melihat berita dan video dari kepingan VCD tentang pembantaian kepada muslim di Ambon dan tempat lain. Akhirnya saya bertekad untuk membalas dendam dan ikut terlibat di pengeboman Bali yang pertama," kata Jack Harun.

Dia akhirnya tertangkap dan harus berhadapan dengan hukum. Rupanya, proses hukuman yang dijalani, bisa perlahan-lahan melunakkan pemikiran Jack Harun. Dia banyak memikirkan wejangan dan kata-kata dari orangtuanya.

Belum lagi sang istri yang terus mendampingi dan menangis, membuat Jack Harun luluh. Dia menyadari jika harus kembali ke masyarakat dan keluarga yang sangat dicintai dan mencintainya.

Jack Harun yang dulunya menolak ideologi Pancasila, akhirnya berikrar untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Dalam masa-masa itu, dia merenungkan kejadian pengeboman yang telah lalu dan merasa bersalah dengan para korban serta keluarga mereka.

"Untuk generasi muda, kita perlu banyak belajar dan mengambil guru yang tepat. Kepada guru saya pesan, ada beberapa anak muda yang dianggap nakal, jangan dikucilkan dan diasingkan. Pengalaman saya, mereka yang dibully akan menambah mereka jadi nakal. Komunikasi yang utama," pesan Jack Harun kepada peserta.

Ganjar mengamini perkataan Jack Harun tersebut dan menyebut pentingnya mencari guru yang tepat. Serta tidak serta merta menelan mentah-mentah informasi yang diterima.

"Teknologi informasi penting dan bagus, tapi harus hati-hati. Mungkin tidak benar, mungkin itu sebuah propaganda. Kalian bisa dipengaruhi oleh siapa pun, maka carilah guru yang benar dan baik," katanya.

Ganjar menegaskan, Republik Indonesia tak lahir begitu saja. Namun, melalui perjuangan dan diskusi panjang yang melibatkan banyak pihak dan berbeda-beda. Menurut dia, narasi-narasi yang menolak perbedaan, sudah semestinya harus dilawan.

"Sudah ada contoh, eks napiter bercerita langsung. Dengan menghadirkan pelaku ini semoga memberi pencerahan kepada anak-anak kenapa bisa terjadi seperti itu, dan dari mana pintu masuknya. Serta bagaimana mencegahnya. Kita semua harus ciptakan kerukunan. Tantangan kita lebih besar," kata Ganjar. (bay/ria)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia