Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Jateng

Galakkan Penghijauan Lereng Lawu, Ganjar Minta Tanam Pohon Jadi Syarat

12 Februari 2020, 16: 27: 45 WIB | editor : Perdana

Gubernur Ganjar Pranowo mengikuti acara penanaman pohon di Kawasan Hutan Bukit Mongkrang, Tawangmangu, Karanganyar, Rabu (12/2).

Gubernur Ganjar Pranowo mengikuti acara penanaman pohon di Kawasan Hutan Bukit Mongkrang, Tawangmangu, Karanganyar, Rabu (12/2).

Share this      

KARANGANYAR - Kerusakan lahan hijau di sekitar lereng Gunung Lawu Karanganyar sudah semakin parah. Salah satunya dipicu oleh pihak-pihak yang nekat melakukan alih fungsi hutan lindung. Tak hanya untuk lahan pertanian, tapi juga lokasi pariwisata.

Saat melakukan penanaman pohon bersama masyarakat dan komunitas lingkungan di Bukit Mongkrang Desa Gondosuli, Tawangmangu, Rabu (12/2), Gubernur Jateng Ganjar Pranowo melihat sendiri, kondisi kerusakan hutan Gunung Lawu kini. Fakta itu membuat dia terkejut dan prihatin.

Ganjar pun teringat masa-masa kecilnya yang indah di lereng itu. "Dulu itu masih hutan belantara. Saya tahu karena saya lahir di sini. Sekarang banyak sekali lahan yang gundul," kata Ganjar.

Ganjar kemudian memerintahkan Wakil Bupati Karanganyar Rober Christanto untuk menggalakkan penanaman pohon kembali. Hal ini harus dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai tingkat RT/RW, lurah, camat, dan seterusnya hingga pejabat-pejabat di Karanganyar.

Bahkan, Ganjar memberi target hingga Maret, kegiatan reboisasi ini terus dilakukan. "Gandeng seluruh masyarakat dan komunitas untuk gerakan menanam di kawasan ini," papar Ganjar.

Lebih lanjut, Ganjar pun menyadari salah satu hal yang menjadi dilema bagi Pemkab Karanganyar. Sebagai daerah dengan potensi wisata yang sangat menarik, tentu daerah itu menjadi incaran para investor.

Namun demikian, investasi di kawasan lereng Gunung Lawu harus benar-benar dikontrol dan diawasi ketat. Bangunan-bangunan serta pelaksanaan pengembangan kawasan tak boleh terlalu padat. Pemkab juga harus berani menerapkan aturan tegas.

"Ingat, Puncak Bogor itu harus menjadi pelajaran buat kita. Tawangmangu tidak boleh terjadi. Maka pengelolaan tata ruang, amdal, izin menndirikan bangunan menjadi sangat penting, termasuk edukasi. Saya ingatkan, biasanya tata ruang itu bisa dinegosiasikan dengan tata uang. Hati-hati betul soal ini," tegasnya.

Selain gerakan menanam, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat harus terus ditingkatkan. Untuk lebih menyentuh masyarakat, bisa memanfaatkan kearifan lokal.

Misalnya, setiap anak yang lahir di sekitar Lawu, maka orang tua wajib menanam satu pohon. Tanam pohon ini juga bisa menjadi syarat jika ada warga yang meminta surat keterangan di tingkat RT/RW.

"Kalau ada yang mau menikah, naik jabatan, syaratnya harus tanam pohon. Kalau mau menikah dua kali, tanamnya dua hektare," kata Ganjar disambut tawa masyarakat.

Sementara itu, Ketua Relawan Gunung Lawu, Giyatno mengatakan, kondisi lereng Lawu sudah sangat memprihatinkan. Tak sedikit masyarakat yang tidak paham, lalu mereka menebang pohon agar lahan bisa dimanfaatkan untuk hal lain.

Untuk itu, sosialisasi dan edukasi secara terus menerus perlu dilakukan. Bahkan, dia memberi usulan yang agak unik terkait kegiatan penanaman pohon.

"Kalau bisa, pohon yang ditanam juga yang mengandung mitos, misalnya beringin, pereh, bulu. Sehingga, masyarakat takut sendiri untuk menebang," ujar Giyatno. (bay/ria)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia