Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Masker Langka di Pasaran, Harga Meroket

13 Februari 2020, 07: 55: 59 WIB | editor : Perdana

SUSAH DICARI: Sejumlah pengendara sepeda motor menggunakan masker terjebak macet di Underpass Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, kemarin (12/2).

SUSAH DICARI: Sejumlah pengendara sepeda motor menggunakan masker terjebak macet di Underpass Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, kemarin (12/2). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Wabah virus korona belum berakhir di Tiongkok. Imbasnya terbawa sampai ke Kota Solo dan sekitarnya. Saat ini, persediaan masker di Kota Bengawan mulai langka. Sejumlah toko penjual alat kesehatan (alkes) dan apotek mengaku kehabisan stok.

Adaikan ada pun, harganya praktis meningkat tajam. Keterbatasan supali dari distributor membuat harga masker naik dua kali lipat.

“Kami kewalahan memenuhi permintaan pasar. Sekarang kami sudah kehabisan stok untuk didistribusikan,” ungkap distributor masker bedah di Kota Solo Aan Wahyu Widodo, 24, kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (12/2).

Aan biasa memasok masker ke apotek-apotek lokal hingga mancanegara. Sejak mewabahnya virus korona di Negeri Tirai Bambu, dia mengaku mendapat order 20 ribu boks untuk dikirim ke Hongkong. “Tapi hanya sanggup menyuplai lima ribu boks saja,” imbuhnya.

Permintaan masker memang membeludak sejak sebulan terakhir. Aan membenarkan harganya naik signifikan. Semula hanya Rp 70-85 ribu per boks. Kini naik jadi Rp 195-250 ribu per boks. Beberapa penjual di marketplace memanfaatkan situasi ini. Dijual dengan harga mencekik.

Apoteker sebuah apotek di kawasan Jebres Erly, 29, mengaku kelangkaan masker sudah terjadi sejak sebulan lalu. Imbas dari sulitnya mencari distributor. Imbasnya stok terbatas.

“Informasi yang kami terima, kemungkinan masker-masker sudah diekspor keluar negeri. Mengantisipasi wabah virus korona. Jadi masker dari distributor di sini kosong. Kami biasa ambil dari Jakarta. Tapi sekarang di sana juga kosong,” keluhnya.

Apoteker di apotek kompetitor Nia, 28, menyatakan hal serupa. Persediaan masker sudah kosong sejak sepekan lalu. “Harganya dulu Rp 70 ribu per boks. Sekarang jadi Rp 160 ribu per boks. Masker yang dijual eceran juga naik. Semula hanya Rp 1 ribu per buah, sekarang Rp 2 ribu per buah untuk semua merek,” bebernya.

Watik, 20, warga Solo mengaku kesulitan mencari masker di apotek maupun di toko pengecer. Meskipun harganya naik, dia rutin membeli dengan alasan menjaga kesehatan. “Harganya mahal tidak apa-apa. Tapi ini sudah harganya mahal, barangnya kosong. Saya muter-muter cari tidak ada. Sudah langka,” ujarnya. (mg4/aya/fer)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia